Selasa, 25 Maret 2008

The Sign of Design

Apa sih "Desain Grafis" itu? Kebanyakan orang hanya manggut-manggut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat mendapat pertanyaan itu. Hal serupa terjadi saat saya memutuskan untuk kuliah mengambil jurusan di atas yang diberi nama lain, 'Desain Komunikasi Visual.' Bila ditanya, "Kuliahnya jurusan apa, dik?" Lantas saya jawab, "De ka ve, oom. Itu Desain Komunikasi Visual." Hampir pasti penanya tadi juga hanya manggut-manggut sembari mengucapkan, "Ooooo..." yang dapat dipastikan ia sama tidak tahunya andai kita menjawab, "Jurusan Akuntansi Forensik, Nanoteknologi, Filsafat, Kriminologi, Mekatronika, atau Manajemen Risiko."

Apakah benar 'Desain Grafis' memang merupakan hal yang masih baru di Indonesia, sehingga masih merupakan hal yang asing di masyarakat awam? Memang harus diakui bahwa bidang keahlian ini baru benar-benar booming setelah tahun 2000-an, ditandai dengan dibukanya jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di banyak universitas, walaupun sampai sekarang pun masih banyak orang yang tidak benar-benar memahaminya. Jujur, saya sendiri sewaktu mendaftar di jurusan DKV pada tahun 2002, juga diliputi banyak ketidaktahuan dan ada sedikit gambling (saat itu baru diakreditasi C karena baru dibuka pada 1998). Yang saya tahu saat itu dan juga persepsi banyak orang awam adalah tugas di DKV hanyalah menggambar dan menggambar.

Setelah berada di dalamnya; mengalami, melakukan, berinteraksi, dan berkarya, hingga menyelesaikan kuliah dalam waktu 5 tahun, persepsi saya pada awal masuk kuliah terhadap DKV tersebut pelan-pelan luntur. Supaya hal ini menjadi lebih jelas, marilah kita simak dahulu esensi dari 'desain'. Berasal dari bahasa Inggris, design; mempunyai arti rancang dan bangun. Menurut Masuwiek ("Desain Menuju Sebuah Perkembangan", 28 Nov 2006, www.masuwiek.blogsome.com), dapat disimpulkan bahwa definisi desain adalah proses, cara, perbuatan dengan mengatur segala sesuatu sebelum bertindak atau merancang. Menurut Masuwiek juga, sebenarnya masyarakat Indonesia sudah akrab dengan kegiatan 'desain', yaitu: menempa, mengukir, merancang, menata, membangun, menggambar, dsb. Sementara "grafis" berasal dari bahasa Inggris juga, graphic (asal mulanya dari bahasa Yunani, Graphein), yang berarti gambar. Jadi definisi desain grafis (graphic design) secara sederhana adalah: merancang gambar (visual).

Desain masih belum sepenuhnya diterima sebagai bidang ilmu, layaknya kedokteran, arsitektur, atau akuntansi. Hal ini bisa dimaklumi karena perkembangannya sendiri memang masih muda, yaitu setelah era Perang Dunia II. Sekalipun begitu ada pula yang mengklaim bahwa coretan-coretan di dinding gua manusia purba sudah dapat dikategorikan sebagai awal mula 'desain' :-) Sebenarnya desain memang dapat diterima sebagai bidang ilmu karena mempunyai prosedur-prosedur tertentu dan dapat dipelajari secara ilmiah. Justru kita dapat mengatakan bahwa design is the science of art & the art of business. Di era modern seperti ini, kesadaran akan pentingnya 'bahasa visual' di banyak aspek semakin meningkat sehingga popularitas desain grafis pun ikut meningkat.

Bagaimana dengan Desain Komunikasi Visual (DKV)? Istilah ini juga berasal dari bahasa Inggris, Visual Communication Design, yang dapat diartikan sebagai proses, cara, perbuatan untuk mendesain (menata/merancang) bahasa visual sebagai alat komunikasi kepada audiens. Di sini ungkapan bahwa "A picture means thousand words", benar-benar diterapkan. Pada perkembangannya, DKV tidak melulu hanya berhubungan dengan 'visual' saja, tetapi juga mencakup bidang lain, seperti: multimedia, sinematografi, web design, komik, packaging, dan sesuatu yang abstrak, seperti periklanan (advertising). Sementara desain grafis sendiri sebenarnya dapat diidentikkan dengan perancangan two-dimensional design saja, seperti poster, brosur, lay-out, ilustrasi, dsb. Cakupan DKV yang lebih luas juga meliputi desain grafis itu sendiri. Tetapi dua istilah yang sebenarnya berbeda ini kadang-kadang menjadi tumpang-tindih karena kebanyakan desainer menjadi bingung saat harus menyebut dirinya sebagai 'orang DKV', 'Desainer DKV', atau 'Visualisator', dibandingkan istilah 'Graphic Designer' yang lebih terasa tepat. Istilah desain grafis sendiri lebih mudah disebut dan dinilai sudah mewakili DKV itu sendiri.

Pertanyaan selanjutnya, "Apakah Graphic Designer itu juga seorang seniman?" Saya pun saat pertama kali kuliah DKV juga terjebak dengan persepsi ini. Jawabannya adalah, "TIDAK." Sekalipun begitu perlu diketahui bahwa dunia desain adalah bagian dari dunia seni itu sendiri. Bahkan jurusan DKV pun berada di bawah Fakultas Seni dan Desain, sehingga gelar yang diperoleh lulusan DKV pun adalah S.Sn (Sarjana Seni) atau Bachelor of Art & Design. Seniman dan Graphic Designer juga sama-sama harus kreatif dan mempunyai jiwa seni. Tetapi apa yang membedakan mereka? Seniman dalam berkarya tidak perlu memperhatikan apakah pesan yang disampaikan pada audiens mampu ditangkap atau tidak. Dalam berkarya, seniman lebih bebas dan tidak mau dibatasi waktu. Kebanyakan seniman juga tidak mengenal teori-teori desain atau prosedur dalam berkarya, yang penting ia mengekspresikan jiwanya dalam sebuah karya. Berbeda dengan desainer yang terikat akan waktu saat berkarya karena ia adalah seorang profesional. Inspirasi memang tidak bisa dipaksakan, tetapi proses kerja desainer tetap harus terjadwal. Karya yang dihasilkan pun harus mampu menyampaikan pesan kepada target audiens dengan baik. Inilah sebabnya seniman tidak perlu mengerti perbedaan warna RGB dan CMYK, yang penting warna dalam karyanya sesuai dengan imajinasinya.

Benarkah masuk jurusan DKV harus semata-mata pandai menggambar? Tak diragukan lagi, DKV memang sangat identik dengan menggambar. Tetapi itu hanyalah salah satu poin plus saja. Selebihnya kreatifitas, konsep berpikir (strategi marketing, psikologi konsumen, riset produk), dan skill (salah satunya menggambar itu tadi), yang diperlukan dalam dunia DKV. Dengan makin ketatnya persaingan kerja, orang-orang DKV tidak boleh hanya mampu menguasai skill saja dalam mendesain. Itu sama saja dengan 'tukang desain'. Seorang desainer adalah konseptor yang punya pemikiran sehingga mampu menggunakan desain sebagai solusi atas masalah klien. Itu sebabnya mengapa orang desain juga dituntut menguasai sedikit strategi marketing dan riset produk. Misalnya, produk X dan produk Y terbuat dari kualitas yang sama. Tetapi karena produk X mampu dikomunikasikan tepat kepada target marketnya dengan benar, maka yang laku di pasaran adalah produk X. Di sini kita perlu mencermati apa saja kelebihan produk X dan apa strategi yang tepat untuk produk Y supaya bisa menerobos masuk. Cukup menarik, bukan? Menurut Djoko Hartanto, founder Concept Magz, desainer yang ideal harus mempunyai craftsmanship dan good thinking. Hal itu diibaratkan seorang wanita yang cantik dan pintar. Dua unsur tadi bisa disempurnakan lagi dengan kemampuan persuasi yang handal kepada klien dalam mempresentasikan ide-idenya. 3 hal ini bisa diibaratkan wanita cantik yang pintar dan supel ;-) Tetapi berdasarkan pada pengamatan saya, di kebanyakan industri desain, kemampuan presentasi ini banyak dialihkan kepada Account Officer, karena mereka menganggap desainer kurang cakap dalam presentasi. Mari benahi hal ini :-)

Karena cakupan DKV yang luas ini, maka prospek kerjanya pun juga terbentang luas. Seorang lulusan DKV dapat menjadi Konsultan periklanan, Brand Manager, Art Director, Creative Director, Animator 3-D, Sutradara film/video klip, Fotografer, Web Designer, Product Designer, Ilustrator, Komikus, Lay-Outer di majalah/percetakan, dan Graphic Designer itu sendiri (mendesain brosur, poster, dsb). Yang jago konsep mungkin cocok menjadi Konsultan, Brand Manager, atau Art/Creative director. Yang jago gambar mungkin pas menjadi Ilustrator atau Komikus. Yang senang dengan bahasa program mungkin handal menjadi Web Designer. Yang mampu menerjemahkan situasi dalam bahasa adegan mungkin berpotensi menjadi Sutradara. Yang menyukai bahasa gambar/bahasa tubuh mungkin mampu menjadi Fotografer. Yang telaten, memperhatikan aspek detail, dan punya jiwa kreatif mungkin bisa menjadi Graphic Designer. Demikian semua sebenarnya punya spesialisasi masing-masing dalam bidang desain komunikasi visual.

Semoga sebuah artikel kecil ini mampu memberikan wawasan mengenai dunia "Desain Komunikasi Visual", terutama bagi Anda yang masih awam dan ingin mengetahui sekilas di dalamnya, ataupun bagi Anda yang ingin memasuki jurusan ini di tingkat universitas :-) Bagi Anda yang masih berpikiran bahwa DKV adalah mata kuliah yang tidak perlu otak, cukup modal bakat menggambar saja, renungkanlah kata-kata ini: "Design is not everything. But Everything is designed." Coba kalau semuanya tidak didesain dengan baik, pasti semuanya jadi asal-asalan saja, ya kan?

3 komentar:

Restu Pangestu mengatakan...

Makasih banget gan informasinyaa ;)

Restu Pangestu mengatakan...

Makasih banget gan informasinyaa ;)

Robert Ravenheart mengatakan...

Iya, sama-sama. Saya cukup terkejut masih ada yg berkomentar di postingan blog saya 7 tahun yang lalu.

Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan, ya.