Minggu, 18 Oktober 2009

Zhuhai - Shenzhen: Twin Gates of Mainland China



Setelah dari Macao, kami berniat untuk menyeberang ke kota terdekat di perbatasan China Daratan, yaitu Zhuhai. Dengan menaiki bus umum, kami singgah di China Immigration Inspection di Zhuhai. Di sana suasananya sangat ramai sekali, benar-benar mencerminkan sebuah pos perbatasan, penuh dengan orang-orang hilir-mudik membawa tas.

Lepas dari pemeriksaan imigrasi, kami kembali menaiki bus lokal menuju ke lokasi hotel di mana kami akan menginap. Seakan seperti sudah memasuki China Daratan, jalanan yang kami lalui sudah merupakan jalanan yang lebar dan lapang, sungguh berbeda sekali dengan jalan di Macao atau Hong Kong yang sempit-sempit.

Zhuhai sebenarnya bukan sebuah kota yang besar. Kota setingkat kabupaten ini terletak di Provinsi Guangdong dan berbatasan langsung dengan Macao di bagian selatan. Meskipun begitu, suasana kotanya benar-benar terasa nyaman dan tertata cukup rapi. Saya merasakan suasana yang adem-ayem saat berjalan-jalan di Zhuhai. Orang-orang di sana tidak terlihat tumpah-ruah di jalanan seperti halnya bila kita berjalan-jalan di Indonesia (meskipun jumlah penduduk di China berkali-kali lipat dari jumlah penduduk di Indonesia). Saya juga melihat diseberang jalan dibangun sebuah taman kota yang luas dan sangat terawat dengan pohon-pohon yang rindang. Bahkan di dekat hotel yang kami tempati, berdiri sebuah toko buku megah tiga lantai dengan koleksi yang cukup lengkap. Uniknya bila kita membeli buku di sana, mereka tidak memberikan kantung plastik, melainkan hanya tali dari kertas untuk menyegel buku-buku tersebut. Saya juga sempat mampir ke sebuah mall di sana. Cukup baguslah, seperti department store yang banyak menjual koleksi pakaian-pakaian.

Karena kami hanya menginap 2 hari saja di Zhuhai, maka saya agak menyesalkan bahwa saya tidak dapat mengunjungi objek wisata yang menarik di sana. Salah satunya yang terkenal adalah Patung Fisher Lady yang sedang mengangkat mutiara dan terletak di atas bukit karang kecil di pinggir laut. Ternyata patung ini dibangun sebagai simbol bahwa Zhuhai dikenal sebagai kota penghasil mutiara. Kalau saya lihat dari fotonya (karena saya belum sempat ke sana), sekilas patung wanita tersebut malah terlihat seperti patung khas Yunani, yaitu seorang wanita bertelanjang dada yang mengangkat sebuah tembikar. Sekilas patung ini juga mengingatkan saya pada patung Putri Duyung yang terkenal itu, di Copenhagen, Denmark.

Oya, yang cukup menarik untuk diceritakan adalah jam makan di Zhuhai tidak seperti di Indonesia, di mana tempat makan selalu buka dan melayani pelanggan setiap waktu. Di Zhuhai, rata-rata tempat makan akan tutup saat jam makan siang selesai dan baru buka lagi nanti saat sore menjelang jam makan malam. Kami sekeluarga pernah hampir kesiangan makan, sehingga cukup heran juga karena tidak ada pengunjung lain yang sedang makan selain kami. Uniknya, tak lama kemudian, para pegawai tempat makan itu dengan kompak berkumpul bersama di salah satu meja lantas makan siang bersama-sama. Hal yang terlihat janggal di Indonesia sebab para pegawai tempat makan yang makan siang bersama di meja pelanggan pasti terlihat kurang sopan.

Besoknya kami segera berkemas-kemas menuju Shenzhen. Setelah bertanya-tanya pada penduduk sekitar, transpotasi terbaik menuju Shenzhen, akhirnya kembali kami menaiki sebuah bus yang khusus melayani rute Zhuhai-Shenzhen. Untuk itu kami harus menuju ke terminal khusus yang ada bertuliskan dalam bahasa Inggris, yaitu "Central Station for Tourist in Zhuhai City". Terminal tersebut ternyata kecil dan terlihat sepi sekali. Namun bangunannya terlihat modern dan bersih. Tidak ada kesan kumuh sama sekali, seperti terminal bus di Indonesia. Akhirnya bus kami datang dan rupanya perjalanan dari Zhuhai menuju Shenzhen memakan waktu sekitar 2,5 jam. Dan sepanjang perjalanan, saya merasa sangat bosan sekali sehingga saya lebih memilih untuk tidur.

Sesampainya di Shenzhen, bus berhenti di Luo Hu Port. Bangunan Luo Hu ini sudah sangat terkenal di Shenzhen karena di dalam kompleks ini terdapat 3 objek vital, yaitu: terminal bus, stasiun kereta api, dan pusat perbelanjaan. Shenzhen merupakan kota yang lebih besar dan ramai dibandingkan dengan Zhuhai, sekaligus lebih kisruh. Seolah-olah menegaskan karakter sebagian orang China yang belum sedisiplin seperti di Hong Kong atau Macao, saya melihat sendiri ada 2 pria yang nekad menyeberang jalan yang jelas-jelas ramai dan sudah diberi pagar pembatas besi. Dua pria itu nekad menyeberang dengan cara memanjat pagar pembatas tersebut, seperti halnya pemandangan di Indonesia. Meskipun begitu, menyeberang jalan di Shenzhen cukup nyaman karena menggunakan lampu khusus tanda pejalan kaki.

Karena saya sudah pernah mengunjungi Shenzhen, maka sejujurnya saya kurang begitu tertarik menjelajahi kota ini untuk kedua kalinya. Namun ibu, kakak perempuan, dan adik perempuan saya tentu saja sangat berminat berpetualang di Luo Hu Shopping Center, sebuah tempat yang akan dapat memuaskan naluri berbelanja setiap wanita. Yah, Luo Hu memang sudah melegenda sebagai tempat dijualnya beragam barang-barang tembakan merek terkenal dengan harga miring. Kalau Anda pandai menawar, Anda bahkan bisa membawa pulang dengan harga nyaris mencapai seperempat dari harga yang ditawarkan si penjual. Tetapi tentu saja Anda harus siap adu kesabaran tawar-menawar dan siap mental bila si penjual ternyata malah tersinggung.

Shenzhen memang dipenuhi oleh gadis-gadis berparas menarik. Ada anekdot yang muncul bahwa di Shenzhen, jumlah perbandingan antara pria dengan wanita mencapai 1:8! Namun kalau diperhatikan, penampilan mereka tidak semodis gadis-gadis di Hong Kong. Yang paling unik adalah, entah mungkin sudah menjadi kebiasaan di banyak gadis-gadis China Daratan, mereka jarang mencukur bulu ketiak mereka. Jadi menjadi hal yang sedikit janggal bagi saya bila menemui seorang gadis berparas cantik namun tidak mencukur bulu ketiak mereka ;-P

Hanya 2 hari di Shenzhen, akhirnya kami segera memutuskan untuk kembali ke Hong Kong. Kali ini kami menuju Hong Kong dengan menaiki kereta api super cepat. Setelah memasuki stasiun di daerah Luo Hu Port, sekali lagi kami harus mengantri dan melalui pemeriksaan imigrasi untuk menaiki kereta menuju Hong Kong. Jangan bayangkan kereta yang kami naiki seperti kereta di Indonesia, karena kereta ini malah lebih mirip seperti kereta MRT yang modern. Laju kecepatannya pun sangat cepat sekali dan kereta ini akan berhenti di stasiun-stasiun tertentu. Karena hotel yang kami tempati sebelumnya di Hong Kong berada di daerah Kowloon, maka kami segera turun saat kereta berhenti di Kowloon Tong. Setelah itu, kami harus membeli tiket lagi untuk menaiki kereta MRT untuk turun di Mongkok Subway Station. Akhirnya, saya kembali lagi ke Hong Kong!

4 komentar:

nana mengatakan...

lam kenal.....
mo tanya dong di zhuhai nginep di hotel apa yaa.....deket gak ke tempat shoping gong bei

Robert - a.k.a - ravenheart mengatakan...

Hai Nana

Salam kenal juga.
Waktu itu saya nginep di hotel bintang 1, Home Inn (hotelnya bercat kuning, bersih dan tenang). Yg saya ingat itu hotelnya ada di belakang sebuah toko buku yg cukup besar di Zhuhai. Toko buku itu berlantai tiga dan di depannya, ada sebuah rumah sakit.

Wah saya kurang tahu ya tempat shopping Gongbei dimana karena saya blm sempat menjelajahi Zhuhai. Tapi tidak jauh dari Home Inn, ada sebuah department store yang lumayan komplit. Jalan kaki ke sana cuma sekitar 15 menit :-)

Gita's Garbage Can mengatakan...

Salam kenal...

Mau nanya ni, kira2 dalam sehari, kita menghabiskan berapa RMB untuk makan ya?
Soalnya saya berencana menyiapkan uang dalam bentuk RMB untuk ini.
apakah saya menukarkan 500 USD sudah cukup untuk hotel dan makanan selama 5 hari?

terima kasih

irmarryani@yahoo.com mengatakan...

hi.. kalau dari macau ke lou hu naik bus apa ya? boleh share info nomer bus dan operator bus yang rekomended? sy berencana ke lou hu dari shenzen by bus, kalo bisa singgah di zuhai sebentar, untuk meneruskan perjalanan ke lou hu station, tp agak bingung dengan rute busnya. thanks before..