Minggu, 13 Desember 2009

Serengeti: The Clash of Dominations




Sabda Darwin mengenai seleksi alam, bahwa yang terkuatlah yang menang terus menggema di dunia. Konsep survival of the fittest inilah yang menjadi roda-roda penggerak kompetisi yang terjadi di mana-mana, mulai dari pucuk dedaunan di atas pohon yang kering meranggas hingga ke hutan tropis yang basah. Dan kali ini kita bisa menyaksikan miniatur kompetisi tersebut di padang rumput Serengeti, Afrika.

Kompetisi yang keras dan kejam terus berlangsung untuk menghasilkan spesies-spesies yang lebih tangguh, lebih kuat, lebih cepat, dan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Alam seperti ibu tiri yang otoriter dan tidak pernah membiarkan anak-anaknya larut bermanja-manja, bahkan ini berlaku pula untuk para predator yang duduk nyaman di atas singasana piramida makanan pun. Persaingan dan bahaya bagaikan dua sisi keping uang logam yang terus-menerus silih berganti membayangi.

Alam selalu menyukai anomali dan kadang-kadang beberapa spesies berbeda terlibat dalam kontak yang sangat jarang terjadi namun berlangsung dengan sangat menakjubkan. Sebuah kesengajaan kecil dari alam untuk membentur-benturkan pion-pion di atas papan caturnya dan membiarkan pion-pion kecil itu sendiri untuk bereaksi sekaligus menyimpannya dalam memori masing-masing. Yang menang membawa kebanggaan dan menunjukkan dominasinya, yang kabur memendamnya sebagai pengalaman berharga, dan yang kalah akan terluka, cacat, atau mati dimakan.

Di padang rumput Serengeti Afrika yang bersemu kuning keemasan tertimpa matahari terik, terhampar jelas sebuah aura kebencian yang kasat mata namun mampu menggetarkan intuisi dari dua jenis predator berbeda. Predator pertama menyerupai seekor kucing raksasa dengan warna tubuh kekuningan yang merupakan kamuflase sempurna untuk mengendap dan mengintai dari antara ilalang Serengeti. Mereka merupakan penguasa utama tanah Serengeti. Singa Afrika begitu dipuja karena kekuatannya, kewibawaannya, dan ketenangannya. Predator kedua memilih wujud menyerupai anjing besar yang eksentrik. Kadang-kadang kita melihatnya melangkah seperti campuran mistis anjing dan beruang. Mereka merupakan tokoh oposisi yang licik, eksentrik, tetapi punya kekuatan misterius untuk melakukan agresi-agresi menakutkan kepada para singa. Hyena yang sendirian bukan masalah besar bagi singa dewasa. Tetapi sekelompok hyena dewasa yang lapar adalah horor, bahkan bagi sekelompok singa.

Bentrokan di antara keduanya kadang tidak dapat dihindari bila rasa lapar lebih kuat daripada rasa takut. Sewaktu sekelompok singa betina sukses menjatuhkan seekor wildebeest dewasa, dengan sigap singa-singa itu berpesta pora melahap setiap daging buruannya. Namun aroma pembunuhan itu dengan cepat menyebar dan diketahui kelompok pemburu lainnya. Belum puas para singa mengisi perutnya, hyena-hyena telah mengepung dan melancarkan intimidasi. Singa betina merasa terusik dan marah menerjang satu-dua hyena di dekatnya. Namun bukannya kabur, hyena yang lapar seperti ombak. Mereka mundur dua langkah untuk kembali maju dengan kekuatan yang lebih besar. Singa-singa merasa kendali peperangan berbalik arah, mereka berlarian dikejar hyena-hyena yang beringas. Salah seekor singa betina yang menyingkir tampak terpincang-pincang, luka di kaki belakangnya masih tergores segar. Di bawah sinar bulan yang anggun, para singa hanya memandang marah tak berdaya, menyaksikan bangkai wildebeest itu menjadi sasaran kerakusan para hyena. Malam itu berakhir untuk kemenangan hyena!

Di siang hari yang cerah, sekumpulan hyena sedang bermalas-malasan di teritorialnya sendiri. Tiba-tiba sekelebat bayangan kuning kecoklatan berlari dengan kecepatan penuh, mengincar seekor hyena muda yang malang. Seekor singa jantan dewasa berlari memburu dengan ketenangan seekor pemimpin dan didukung beberapa singa betina berlari di belakangnya. Melihat bahaya yang nyata, hyena itu berlari ketakutan dan teman-temannya hanya diam menyaksikan dari kejauhan. Mereka membutuhkan suntikan rasa lapar yang hebat sebagai doping untuk berani mengkonfrontasi seekor singa dewasa yang sedang marah! Kaki-kaki hyena yang pendek dan canggung (karena kaki belakangnya lebih pendek) jelas bukan tandingan kecepatan singa yang marah. Dengan mudah singa jantan itu mengaitkan kaki depannya, menjegal kaki belakang hyena sehingga ia terjungkal dan seketika singa jantan itu mengigit lehernya dengan brutal. Hyena itu meronta dan menjerit-jerit namun singa penuh pengalaman itu tetap diam mengatupkan rahangnya yang besar, berusaha mematahkan leher si pengecut. Setelah hyena itu diam tak bergerak, singa itu bergegas pergi sembari mengaum menunjukkan dominasinya sebagai pemimpin alfa. Dengan jelas ia menuntut pembayaran yang adil kepada para hyena atas rusaknya perburuan singa betina semalam. Singa dan hyena akan cenderung saling menyerang tanpa memerlukan alasan apa pun.

Suatu saat di belahan padang rumput lainnya yang gersang, seekor singa jantan muda yang depresi melangkah gontai meninggalkan kawanannya. Mungkin karena kalah berkompetisi atau sedang sakit, singa muda ini jelas tampak sangat kurus dan tidak sehat. Setelah melangkah cukup jauh tanpa tujuan, singa yang surai rambutnya belum tumbuh sempurna ini merasa lelah dan memutuskan berbaring menunggu ajalnya tiba. Menjelang senja, sekelompok hyena yang berpatroli mencium bau bangkai yang paling mereka tunggu-tunggu! Dengan penuh hati-hati mereka menyelidik seolah memastikan bahwa singa muda yang berbaring kaku di hadapan mereka benar-benar telah mati. Tanpa menunggu waktu lama, dengan segera mereka mulai menyosorkan moncong, melubangi perut kurus singa itu dan memakan isinya. Sementara kawan mereka melahap, beberapa hyena menunjukkan perilaku anehnya. Tampak jelas mereka dengan ekspresi nyaman menggosok-gosokan tubuhnya ke bangkai singa tersebut. Mungkin ini adalah simbol penghinaan dari kaum hyena kepada para singa. Atau mungkin juga hyena berharap bisa memanfaatkan bau singa di tubuhnya untuk keuntungan dirinya.

Jauh dari keributan para hyena dan singa, sekumpulan badak sedang bersantai berkubang lumpur. Badak Afrika dewasa seperti sebuah panser lapis baja dengan palu godam di ujungnya yang akan mendobrak rintangan apa pun di hadapannya. Dari balik semak-semak, tiba-tiba menyeruak seekor gajah jantan muda sendirian menghampiri badak-badak tersebut. Gajah itu mengeluarkan suara terompetnya yang nyaring dengan belalainya sengaja membuat kegaduhan. Para badak yang terusik segera keluar dari kubangan lumpur dan badak yang terbesar dari mereka menyambut tantangan gajah tak tahu diri tersebut.

Dua mahluk raksasa Afrika bertemu dan keduanya saling menunjukkan dominasinya satu sama lain, menciptakan kepulan debu yang menyelimuti kawasan tersebut. Gajah dengan tubuhnya yang lebih besar, mendorong perlahan melalui tulang kepalanya dan melawan dengan gadingnya, sementara badak menubrukkan culanya. Para ilmuwan menduga perilaku gajah muda yang meledak-ledak ini adalah untuk melampiaskan emosinya sekaligus menunjukkan dominasinya. Di akhir kisah, para badak memutuskan untuk pindah mencari tempat yang lebih tenang tanpa diganggu mahluk gila yang lebih besar dari mereka. Sementara gajah muda itu terlihat merasa puas namun terlihat luka-luka lecet di gadingnya akibat hantaman cula. Kadang-kadang konfrontasi yang buas dapat mengakibatkan badak terluka parah di leher bawah terkena gading gajah. Luka yang menganga parah dengan perlahan akan membunuh si badak.

Di kesempatan lain, seekor buaya terlihat sedang tertawa girang melihat kawanan gazelle yang menyeberangi sungai. Para gazelle terlihat gugup menyeberangi sungai karena merasakan bahaya, sementara buaya dengan dingin semakin mendekati mereka. Dengan gerakan sekejap mata, seekor gazelle betina yang malang segera disambar oleh seekor buaya muda. Paha gazelle itu tertangkap rahang kokoh penuh gigi tersebut. Gazelle itu meronta-ronta dengan putus asa. Tetapi butuh sebuah mukjizat untuk bisa melepaskan diri dari gigitan buaya yang selalu lapar.

Namun siang itu alam sedang bermurah hati. Entah merasa terganggu atau merasakan iba, seekor kuda nil dewasa di tepian sungai dengan agresif berenang menuju ke buaya tersebut. Kuda nil itu dengan jelas memperlihatkan ekspresi marah, membuka mulutnya yang lebar, memperlihatkan rahangnya yang besar dengan empat taring yang mencuat. Buaya muda itu sadar diri, kadang-kadang seekor predator yang dominan pun harus mengerti kapan saatnya mundur dari situasi yang genting. Saat buaya itu membuka rahangnya, dengan cepat gazelle malang itu melesat ketakutan menuju daratan.

Gazelle betina yang nyaris mati disambar buaya itu terduduk di daratan dengan sekujur tubuh gemetar ketakutan. Inilah mukjizat yang sesungguhnya terjadi, kuda nil dewasa tadi tiba-tiba keluar dari sungai dan menghampiri gazelle tersebut. Dengan bahasa tubuh lembut keibuan, kuda nil itu mengendus-enduskan moncongnya ke kepala gazelle, seolah memberikan simpati dan semangat kepadanya untuk meneruskan hidup. Setelah beberapa saat, akhirnya kuda nil itu meninggalkannya setelah menyadari bahwa gazelle itu terluka parah dan terlalu lemah untuk berjuang. Burung-burung nasar yang sudah berkerumun di sekelilingnya dengan serta-merta mulai berpesta menotoli gazelle yang sudah sekarat tersebut. Namun ada satu pihak yang marah dan ingin merusak pesta para burung nasar. Reptil prasejarah itu keluar dari sungai dan dengan penuh rasa dongkol mengusir burung-burung nasar lalu menyeret bangkai gazelle kembali ke dalam sungai, sementara burung-burung itu hanya bisa berkoar-koar protes tak berdaya.