Sabtu, 04 Oktober 2008

Hong Kong: Live it. Love it!




Keesokan paginya kami kembali berkemas-kemas menuju Hong Kong. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Ancin, kami menaiki bus menuju Shenzhen Bay Customs untuk kembali menjalani pemeriksaan imigrasi. Kali ini pemeriksaan hanya berlangsung di Shenzhen namun dilakukan dua kali (dokumen dan barang). Memasuki wilayah Hong Kong, kami langsung diantar menuju Royal Park Hotel. Hotel berbintang 4 di kawasan Shatin ini ternyata mempunyai jalan masuk yang langsung terhubung dengan New Town Plaza, sebuah shopping mall yang cukup megah (kesukaan turis Indonesia, hotel dekat dengan tempat shopping). Setelah melakukan check-in, rombongan segera berangkat ke Disneyland di Lantau Island. Perjalanan selama 1 jam ini melewati Tsing Ma Bridge yang sekilas terlihat seperti Golden Gate-nya Hong Kong.

Seorang dewasa dikenai admission ticket seharga 350 HKD. Namun harga itu saya rasa masih worthed untuk taman hiburan sekelas Disneyland. Memasuki taman hiburan ini, hanya ada satu kata: "WOW!" Sungguh sangat fantastis! Meskipun kata teman saya, masih kalah dengan Disneyland di Tokyo, tetapi paling tidak bila dibandingkan dengan Dufan sungguh seperti membandingkan antara lukisan Monalisa dengan lukisan anak SMP. Memasuki entrance, kita seakan memasuki sebuah kota tersendiri. Di arah kanan-kiri merupakan toko-toko souvenir khas Disney yang sengaja didesain menyerupai bangunan toko-toko di era Wild Wild West. Disneyland terlihat sangat bersih sekalipun para petugas cleaning service di sini sangat jarang terlihat. Bahkan daun-daun yang berjatuhan dari pohon pun tidak terlihat. Hampir 95% petugas di Disneyland Hong Kong merupakan anak-anak muda yang masih berusia twenty something.

Terbagi menjadi 4 area: Tomorrowland, Adventureland, Fantasyland, dan Main Street USA, kita dapat mencoba wahana-wahana yang tersebar di tempat itu. Saya sendiri tidak sempat mengunjungi semua wahana di sana, namun yang paling saya rekomendasikan adalah 'The Golden Mickeys' dan 'Mickey's PhilharMagic'. Sebenarnya ada satu atraksi lagi yang layak direkomendasikan, 'Festival of the Lion King', hanya sayang saya belum sempat memasuki atraksi tersebut karena antrinya sangat panjang. Bagi yang menyukai sensasi ketegangan dengan adrenalin tinggi, saya sarankan mencoba wahana 'Space Mountains', sebuah roller coaster yang menyusuri kegelapan galaksi lengkap dengan tikungan-tikungan tajam. Yang ingin merasakan asyiknya mengendarai mobil listrik yang nyaman dapat mencoba wahana 'Autopia', yang di-support oleh Honda. Bahkan di kawasan Tomorrowland, ada sebuah tong sampah robotik yang bisa berjalan sendiri sambil bersuara dalam bahasa Kong Hu.

Saat tengah hari, ada parade karakter-karakter Disney yang melewati tengah kota, disusul parade 'High School Musical' yang berulangkali meneriakkan, "Wildcats, let's go!" dan di malam harinya ada parade Halloween 'Nightmare Before Christmas' yang dipimpin karakter Jack Skellington yang duduk di buah labu besar, sangat keren! Puncak acara berlangsung sekitar pukul 20.00 di Main Street USA, dimana ribuan orang menyaksikan berlangsungnya atraksi fireworks yang sangat meriah selama kurang lebih setengah jam. Yang hebat seusai ribuan orang itu menyingkir, hanya sedikit sekali sampah yang tertinggal. Kalau di Indonesia mungkin sudah banyak sekali sampah-sampah yang berserakan.

Pulang ke hotel, badan terasa lelah semua meski hati merasa senang dan puas :-) Hari keempat di Hong Kong, rombongan tur diberikan hari bebas untuk berpergian ke mana saja. Di hari ini saya menemui saudara ayah yang berdomisili di Hong Kong. Karena bingung tidak tahu mau ke mana, saya menurut saja waktu diajak pergi ke kawasan kota di Hong Kong Island. Menaiki double decker bus (jadi ingat seperti bus Ksatria di Harry Potter), perjalanan ke kota memakan waktu sekitar 45 menit. Sesampainya di kawasan Central, wow sungguh Hong Kong merupakan surga belanja bagi para turis! Di kanan-kiri semuanya toko berkelas dan banyak orang berlalu-lalang di sana-sini. Saya lalu diajak menaiki sebuah trem yang bertarif murah (jauh-dekat cuma 2 HKD). Sayangnya karena murah, maka kita harus mau berdesak-desakan ria dengan penumpang lain, untungnya tidak ada copet di sini :-)

Melewati Wan Chai, kemudian kami turun di kawasan Causeway Bay. Di sini juga sangat penuh dengan toko-toko, shopping mall, dan orang berlalu-lalang. Jalan-jalan di daerah ini cukup sempit namun tidak macet. Uniknya di pinggir toko-toko high class tersebut, terdapat beberapa jalan kecil yang berjubel dengan dagangan kaki lima. Mereka umumnya menjual pakaian, tas, sepatu non-branded dengan harga murah. Susah mencari barang bajakan di Hong Kong. Di daerah Causeway Bay ini saya menjumpai restoran "Sedap Gurih" yang menjual masakan-masakan khas Indonesia. Bahkan di sebelahnya terdapat supermarket "Chandra" yang menjual beragam produk-produk dari tanah air. Kata Oom saya tersebut, di kawasan dekat Victoria Park ini bila hari Minggu, sangat banyak TKW Indonesia yang berjubel, sehingga orang Hong Kong menyebutnya dengan "Xiao Yin Ni" (Indonesia Mini).

Setelah menjelang malam, kami memutuskan untuk pulang menaiki subway train menuju Shatin lalu beristirahat di hotel. Besok paginya di hari terakhir, saya memutuskan untuk berkeliling membelanjakan sisa uang HKD di New Town Plaza. Karena jadwal check-out hotel adalah pukul 12.00, maka seusai breakfast jam 09.00, segera saya melangkahkan kaki menuju mall tersebut. Di waktu sepagi itu, tentu saja hampir semua toko masih tutup dan barulah sekitar jam 10.00, beberapa pegawai mulai datang membuka toko dan membersihkan interior. Untungnya masih keburu membeli beberapa barang dan kembali ke hotel sebelum jam 12.00 :-)

Setelah semua peserta tur berkumpul, segera kami menaiki bus menuju Hong Kong International Airport, yang juga terletak di kawasan Lantau Island. Karena masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum boarding, kembali rombongan tur diberikan waktu untuk berbelanja. Di airport ini cukup banyak tersedia toko-toko yang menarik, seperti Hong Kong Disneyland shop, Giordano, dan Toys R Us. Bahkan toko-toko branded sekelas Prada, Bvlgari, dan Chanel juga ada di sini. Berbeda sekali dengan toko-toko di Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang terlihat suram dan usang.

Setelah menempuh waktu sekitar 4,5 jam, akhirnya pesawat China Airlines yang kami tumpangi mendarat di Soekarno-Hatta. Benar saja, kekisruhan dan kelambanan khas Indonesia langsung nyata terasa di tempat ini. Bayangkan untuk pengambilan bagasi saja, diperlukan waktu selama lebih dari 1 jam. Bahkan troli-troli untuk penumpang pun semuanya sudah ada di tangan petugas-petugas bandara yang siap 'membantu' meringankan beban bawaan. Barulah sekitar 45 menit kemudian, beberapa staf mulai menyediakan troli kosong. Belum lagi begitu keluar ke arrival area, beberapa calo langsung menyambut dan menawarkan jasa taksi dan telepon dengan gigih. Cerita suram Indonesia masih berlanjut, di luar beberapa sopir taksi tanpa seragam langsung tanpa basa-basi menawari taksi non argometer dengan harga yang ngawur! Benarlah kata orang bahwa kondisi airport sebuah negara menunjukkan wajah bangsa itu sendiri.

Parahnya kemudian seorang wanita berseragam membawa catatan (saya jadi mengira ia petugas resmi) menghampiri saya dan menawari jasa taksi, sehingga saya iyakan. Ternyata kemudian ia malah juga mengajukan penawaran tarif taksi borongan yang cuma lebih murah dari penawaran sopir taksi liar yang pertama. Karena saya sudah lelah, akhirnya penawaran itu saya iyakan. Eh, ternyata masih ada lagi seorang pria yang dengan sopan membukakan pintu taksi buat saya lalu tanpa sungkan menagih tipping seharga 10 ribu Rupiah!

Klimaks cerita ini berakhir saat di dalam perjalanan, mendadak si sopir taksi menawarkan tarif yang lebih tinggi lalu mematikan argometer. Setelah tawar-menawar ala Indonesia, akhirnya si sopir bersedia menurunkan tarif sebesar 10%. Sepertinya mereka semua saling bekerjasama untuk berbagi komisi. Padahal taksi Royal City yang saya tumpangi ini berlabel taksi resmi Bandara Soekarno-Hatta, I really miss Blue Bird Taxi! Betapa malunya saya kembali ke Indonesia langsung mengalami kisah seperti ini. Saya jadi membayangkan bila sang penumpang adalah turis bule, tentu parasit-parasit seperti ini akan lebih agresif lagi. Inilah yang membuat mengapa republik ini tidak pernah maju pesat, karena banyaknya korupsi dan kolusi di mana-mana. Mungkin Indonesia membutuhkan seorang Deng Xiaoping yang berani, tegas, revolusioner, dan jenius untuk menjadi sosok pemimpin, sehingga mampu mengangkat perekonomian negara ini seperti beliau menyulap perekonomian Shenzhen.

5 komentar:

**Erika mengatakan...

bener banget, sodara Robert.
Sebenernya aku ga pernah ke bandara Soekarno-Hatta (ga pernah naik pesawat malah, hahaha)
terus pas kemarin jemput orang balik dari Thailand, aku shock liat bandara internasional kumuh kita. Bahkan lebih parah dari bandara Juanda yang menurutku jauh lebih bersih....memalukan!

jadi inget pas aku main FFS di facebook, begitu aku bilang aku tinggal di Jakarta, komen dia adalah "Ah Jakarta, wild place"

n I have no words to say >___<

Anonim mengatakan...

DD :
Yah, baru kali ini saya bercomment, biasanya malas kalo mau comment.Ok ini singkat saja mengenai pengalaman saya mengenai bandara di Indonesia,yang menurut saya tidak memuaskan dan memalukan.Awal oktober saya ke jakarta dari batam dan sampai sana tidak ada yang bisa menjemput akhirnya naek deh taxi sama dengan pengalaman si "penulis", saya juga tertipu, karena pada awalnya di tawarin dengan Blue Bird taxi.Berhubung saya sudah lama gak ke jakarta dan nyampe nya dah malem akhirnya saya terima aja tawarannya, tanpa basa-basi kenanya 180rb abis itu juga bayar yang dorong troli 10rb ...tapi gak masalah dengan "taxi-taxi" gituan soanya orangnya ramah dan servicenya lumayan bagus, meskipun harus gigit jari juga setelah tahu bahwa jumlah yang harus saya bayar ternyata kemahalan...
Kemudian di akhir Oktober saya berangkat ke Hong Kong ma saudara saya, dalam perjalanan dia membawa beberapa aksesoris yang mau dikembalikan, and sampe pemeriksaan kopernya and punya saya disuruh buka...periksa-periksa, tanpa ngomong apapun petugas pemeriksaannya "nyolong" gitu aja aksesoris yang di koper saudara saya...wah bener2 menjengkelkan.bener2 diluar dugaan, petugas bandara ada yang bertingkah seperti "perampok" gitu..setelah itu dia periksa koper saya juga, dan yang periksa petugas yang satunya, setelah melihat temannya ngambil gitu, dia juga coba bongkar2 koper saya, pura2 pake nanya ini apa segala macam, hampir aja ikat pinggang yang saya beli di singapur n masih dalam bungkus plastik mau diambil sama dia juga...pokoknya saya kecewa dan merasa jengkel sekali dengan pelayanan di bandara...kalo ditanya soal indonesia oleh orang china, jawaban saya cuman lumayan saja dengan sedikit kacau nya...
Gimana mau promosikan visit indonesia, kalo pelayanan bandaranya aja seperti itu, mendingan ngomong terus terang aja daripada dikomentari soal promosi yang gak diimbangi dengan kondisi yang mendukung.....

Robert - a.k.a - ravenheart mengatakan...

Betul sekali, promosi "Visit Indonesia" rasanya cuma seperti fatamorgana oase di tengah padang gurun yang gersang. Bayangkan saja, secara logika, pertama kali menginjak Bandara Internasional Soekarno-Hatta saja sudah semrawut seperti itu, apalagi masuk ke dalam negaranya? Yah, pantas turis asing lebih tahu "Bali" daripada "Indonesia."

sphyrna mengatakan...

uda mahal banget masih ngantri ya naik wahananya.. kalo di indo masuk dufan segitu.. masih ngantri ga ya.. tapi ga worthed se wajar.. jet coasternya aja cuma seiprit

Robert - a.k.a - ravenheart mengatakan...

Ya emang kalo diliat nominalnya aja, terasa mahal. Cuma kalo uda masuk di Disneyland seharian sampe kaki kram, rasanya terpuaskanlah, huehe..

Iya, wahananya walau uda banyak, tetep ngantri apalagi yg favorit2. Maklum yg masuk buanyak banget, sampe ribuan lebih mgkn. Makanya di beberapa wahana disediain sistem FastPass, utk mereduksi antrian. Mirip kartu daftar gitu, jadi kalo kita uda pegang tanda masuknya, kita liat masuknya jam brp, dan bisa ditinggal jalan2 dulu. Nanti kalo uda jamnya, langsung masuk wahana, ga usah antre lagi. Para pemegang FastPass selalu didahulukan drpd pengunjung lainnya yg ga pake FastPass.

Kalo Dufan sih pas musim liburan juga crowded-lah, ga tau ya kalo hari biasa. Ya masih baguslah ada Dufan daripada ga ada sama sekali, hehe.

Anyway, thx for the comment, Sphyrna!