Rabu, 28 April 2010

Humanity in 21st Century Reflection

Photography by: Monica Szczupider

Foto di atas termasuk salah satu dari kompilasi galeri foto "Vision of Earth 2009" yang dicanangkan National Geographic. Tampak seekor simpanse betina berusia 40 tahunan bernama Dorothy meninggal di Pusat Rehabilitasi Simpanse Sanaga-Yong di Kamerun. Dorothy memiliki masa lalu yang cukup kelam. Selama 25 tahun, ia menghabiskan hidup dengan leher dirantai dan dilatih merokok serta meminum bir untuk menghibur pengunjung, sampai akhirnya ia diselamatkan. Yang membuat semuanya menjadi luar biasa adalah respon keluarga simpanse yang menyaksikan penguburan Dorothy. Disebutkan bahwa beberapa dari mereka menunjukkan ekspresi agresi dan teriakan-teriakan frustasi. Tetapi yang paling mencengangkan adalah ketertarikan mereka semua memperhatikan Dorothy dalam kesunyian. Seolah mereka memahami bahwa Dorothy tidak akan pernah ada di antara mereka lagi.

Hal itu membuat saya sedikit merinding. Sampai sebatas mana simpanse mampu menunjukkan rasa empati dan kesedihan? Sampai sejauh mana simpanse mampu memahami makna duka cita kehilangan salah satu anggota keluarganya? Apakah mereka telah mengenali eksistensi jati dirinya sendiri? Sadar akan keberadaan dirinya sendiri sebagai "sebuah mahluk", seperti halnya Rene Descartes yang menegaskan eksistensi manusia lewat "Cogito Ergo Sum" (I Think Therefore I Am). Apakah semua pemahaman manusia selama ini terhadap binatang perlu ditinjau ulang?

Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa binatang mungkin dapat menunjukkan emosi secara terbatas. Tetapi pengamatan secara awam bisa salah mengenali emosi-emosi tersebut karena manusia memiliki kecenderungan apa yang disebut anthromorphism, memberikan atribut-atribut manusia kepada sesuatu selain manusia (hewan, tumbuhan, dewa, batu, dsb). Ini berarti dongeng mengenai Si Kancil yang gemar mencuri timun di ladang Pak Tani juga bisa dikategorikan ke dalam salah satu contoh penerapan anthromorphism.

Tetapi bagaimana seandainya primata-primata tersebut memiliki konsep-konsep manusiawi yang jauh lebih kompleks dari yang pernah kita duga? Bahwa ternyata mereka tidak seprimitif yang kita sangka? Mungkinkah mereka juga mengenal emosi cinta yang memaksa mereka untuk menjalani kehidupan monogami? Mungkinkah mereka merasakan keimanan terhadap konsep Ketuhanan? Mungkinkah justru mereka yang selama ini mengamati kita dan mempergunjingkan semua kelakuan kita saat sedang bersantai ria di pepohonan? Apakah semua yang ditulis Darwin itu sedang terjadi, bahwa kita sedang menyaksikan sebuah lompatan evolusioner?

Sebaliknya di satu sisi, stereotip para pria yang paling umum adalah mereka hanyalah mahluk Homo sapiens dengan keinginan-keinginan dasar dan kecenderungan-kecenderungan sederhana. Mereka hanya tertarik dengan makan, berburu, dan seks. Some people rather call men are modern apes! Pria, seperti halnya semua pejantan dilaporkan sering bertindak agresif, mempertontonkan dominasi terhadap teritorial dan pasangan dari rival-rivalnya, dan juga memiliki kecenderungan mengawini betina sebanyak-banyaknya. Karena pria mewarisi kandungan testosteron yang meluap-luap dari nenek moyangnya sebagai pemburu ulung dan mempertahankan keturunannya. Sampai detik ini pun, pria-pria masih bangga memegang label sebagai pemegang garis keturunan dengan mempertahankan nama keluarga mereka.

Sedikit rumit dari para pria, wanita diciptakan sangat atraktif. Wanita memiliki keinginan-keinginan besar dengan kecenderungan-kecenderungan tidak terprediksi. Kelakuan wanita seringkali tidak mampu diramal oleh mesin logika pria. Bila pria memiliki tombol On dan Off, maka wanita mungkin memiliki sedikitnya 50 tombol yang saling berkaitan. Wanita memang memiliki sisi emosi yang lebih kompleks dari pria. Otak wanita terprogram untuk mampu melakukan berbagai aktivitas dalam satu kesempatan (multitasking) karena kedua belahan otaknya terhubung dengan seikat saraf corpus callosum yang lebih tebal dari milik pria. Karena itu sangat wajar bila seringkali para pria kebingungan untuk mampu memahami wanita.

Namun pada era-era sekarang, stereotip itu sedikit bergeser. Pria bukan lagi mahluk yang maskulin, kasar, dan liar. Dulu mereka memanggul tombak, menenteng pisau, dan mengokang senapan. Sekarang mereka menenteng BlackBerry sambil menenggak Cognac dengan belahan rambut tersisir rapi, sepatu mengkilap, dan aroma parfum yang tersebar. Pria masa kini semakin memperhatikan penampilan, citra diri, bahkan menjadi perasa. Alih-alih menjadi Mars yang rasional, dunia kini perlahan-lahan menjelma menjadi Venus yang emosional. Sosok-sosok modern seperti David Beckham dan Edward Cullen telah menggantikan sosok macho Charles Bronson atau Clint Eastwood. Fenomena "pria metroseksual" semakin tidak dapat dibendung. Sekalipun awalnya dicerca sebagai pria banci pesolek atau gay, perlahan-lahan para pengoloknya juga terbawa arus untuk semakin peduli berdandan. Yah, pria sekarang seolah mulai "berevolusi" secara mental dan kelakuan untuk menjadi wanita... Like it or not, it's the fact.

Jadi saya dapat berkelakar bahwa, if the chimps will begin act like men and men were modern apes, hence women are the future of men!




Kamis, 22 April 2010

God Lives in Serengeti









Source: Nick Brandt Photography. All rights reserved.

Happy Earth Day on April 22, people!

Selasa, 20 April 2010

I LOVE US


<"This is not a love story. This is a story about love.">

(500) Days of Summer adalah film drama... err what I suppose to call it, a romantic-but-tragic-with-alittlebit-comedy-drama? Sebuah kisah cinta dari seorang pemuda bernama Tom Hansen dan seorang gadis, Summer Finn. Awalnya mungkin terdengar klise, Tom merasakan sebuah chemistry saat pertama kali bertemu Summer. Kepercayaannya terhadap nilai-nilai seperti cinta sejati, takdir, keajaiban cinta dan puisi-puisi cinta, membuat Tom merasakan bahwa Summer adalah jawaban dari semua pencarian hatinya selama ini. Summer adalah kepingan puzzle terakhir yang melengkapi semua rangkaian mozaik indah di dalam hati Tom.

Tom memberikan sinyal-sinyal ketertarikan kepada Summer dan gadis itu tidak menolaknya, meskipun pada beberapa detail, terlihat isyarat yang nyaris tersamar bahwa Summer tidak menerima Tom sepenuhnya. Who cares? Mereka berdua menjalani hari demi hari seperti pasangan normal lainnya di seluruh dunia; menonton bioskop bersama, makan bersama, bercanda penuh keakraban, saling bertukar pikiran, berdansa, bahkan berciuman mesra dan tidur bersama. Tom merasakan semuanya berjalan sempurna namun ia tidak pernah mendengar sekalipun ucapan cinta dari Summer.

Saat Tom bergumul di dalam kepalanya sendiri dan meminta saran dari sahabat-sahabatnya, ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Summer, sedang ke arah manakah hubungan kita berjalan saat ini? Summer tidak memberikan jawaban yang jelas. Ia hanya menjawab, "Well, I am happy. Are you happy?" Tom hanya tersenyum memaksakan diri seolah semuanya memang berjalan baik-baik saja.

Hingga memasuki hari ke 400, hubungan Tom dan Summer mulai renggang. Tom tetap berusaha melihat Summer dengan tatapan mata yang berbinar seperti di hari pertama ia memandangnya. Tetapi Summer mulai memberi jarak di antara mereka berdua. Hingga akhirnya setelah cukup lama tidak bertemu, Summer mengundang Tom ke pesta pribadinya di sebuah apartemen. Tom datang dengan setelan pakaian paling rapi, belahan rambut paling keren, dan membawa hadiah buku kesukaan Summer. Di sinilah, Marc Webb sebagai sutradara membuat ilustrasi scene yang sangat menyentuh dalam ironi. Marc membuat layar televisi Anda terpisah menjadi dua, antara ekspektasi di dalam kepala Tom dan realita yang terjadi.

Di dalam scene ekspektasi, semuanya mengalir manis dan indah. Summer membuka pintu, menciumnya lembut dan mengajaknya masuk. Saat ia membuka hadiah dari Tom, Summer kembali menciumnya dengan senang. Di sana mereka berdua terlibat pembicaraan akrab sepanjang waktu, tidak terpengaruh para tamu lainnya, dan berdiri berdampingan di balkon sambil memegang segelas sampanye dan menatap langit senja. Sedangkan di scene realita, Summer membuka pintu dan memeluknya sekilas. Saat membuka hadiah dari Tom, ia hanya menyentuhkan tangan di bahu Tom sebagai tanda simpati. Tom terlibat pembicaraan basa-basi dengan teman-teman Summer dan menjelang sore, Tom sendirian menenggak sebotol sampanye di balkon. Ia menunggu Summer selesai dengan semua teman-temannya. Sayang semua penantian Tom menjadi tercerai-berai saat ia melihat Summer dengan ekspresi bahagia memamerkan sebuah cincin yang melingkar di jarinya kepada seorang temannya.

Tom merasakan dunia yang ia pijak runtuh seketika. Ia keluar dari apartemen Summer tanpa merasa perlu pamit kepadanya. Dari sana, ia merasa frustasi dan tidak bisa mengerti bagaimana ini semua bisa terjadi. Sampai akhirnya suatu saat Summer berhasil menjelaskan semuanya kepada Tom mengapa itu semua harus terjadi. Summer pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi pacar seseorang. Ia tidak percaya akan cinta. Ia meyakini bahwa pernikahan hanyalah awal dari sebuah perceraian, seperti halnya pernikahan kedua orangtuanya. Tetapi sekarang, Summer telah menikahi seorang pria dan pria itu bukanlah Tom.

But the best part is not yet to come, tepat di hari ke 500, melalui sebuah peristiwa kebetulan yang sempurna, Tom menemukan sesosok gadis lain. Sejak itu hari-hari milik Tom kembali di-reset menjadi hari ke 1 bersama seorang gadis cantik bernama Autumn. Tom kini mempercayai bahwa tidak ada yang namanya keajaiban cinta sejati atau takdir. Semua hanyalah kebetulan semata.

Ini adalah film yang memukau, menurut saya. Sangat jarang melihat film bertema cinta yang dilihat dari sudut pandang pelaku seorang pria. Film ini memberikan pesan bahwa sesungguhnya perempuan itu tidak selalu lemah dalam sebuah hubungan cinta. Seringkali justru perempuanlah yang memegang kendali sebuah hubungan. Pria yang sedang jatuh cinta akan dibutakan oleh serbuan hormon testosteron yang menyala-nyala di dalam dirinya. Sebaliknya, wanita mampu merasakan kapan cinta itu seharusnya tidak mereka miliki. Dalam film di atas, Summer secara gampang tidak pernah benar-benar merasa yakin terhadap Tom, meskipun Tom Hansen merasa sudah memberikan segalanya yang terbaik. Sampai entah bagaimana Summer berjumpa dengan seorang pria lain yang mampu memberi keyakinan itu kepada Summer Finn.

Tetapi kabar baiknya adalah, there's still a plenty of fish in the sea. Keep your heart open hence the sunshine could shine in. Ada kata-kata bijak yang mengatakan, saat sebuah pintu menutup, pintu yang lain akan terbuka. Kadang-kadang kita terlalu terfokus pada pintu yang menutup itu sehingga tidak memperhatikan pintu lain yang membuka untuk kita. Broken heart is hard but life goes on. They who reject you, protect you from someone who doesn't want you and leaves room for someone who does. You just haven't met your someone special yet!

Dedicated to all men who ever broken their hearts.

Senin, 08 Maret 2010

My Ambigram

Ambigram adalah seni tulisan yang dapat dibaca sebagai sebuah atau beberapa kata yang sama, tidak hanya dari satu bentuk bagaimana ia ditampilkan, tetapi juga dari banyak sudut pandang, arah, dan orientasi yang berbeda (Wikipedia, "Ambigram", 2010).

Saya pribadi baru aware apa itu ambigram setelah membaca novel Dan Brown, Angels & Demons. Di novel itu, tulisan "Angels & Demons" dibuat menjadi sebuah ambigram sehingga bisa tetap dibaca sama biarpun dibalik. Di dalam cerita itu, terdapat sebuah organisasi kuno rahasia, Illuminati yang juga memiliki simbol yang berupa ambigram namanya sendiri.

Kebetulan, sekitar bulan Juli 2009, salah seorang desainer grafis bernama Hariadi sedang mengadakan proyek ambisius menciptakan desain ambigram sebanyak-banyaknya demi mengejar target dapat ditampilkan di hasil search teratas pada Google. Alhasil, ia pun juga berbaik hati mau membuatkan nama saya menjadi sebuah ambigram. Sudah lama berlalu sih memang, tetapi saya baru kepikiran untuk meng-upload desain ambigram ini sekarang :-)

Jumat, 18 Desember 2009

2001: Space Odyssey (Beyond Hope, Expectation & Imagination)


Minggu kemarin, dengan sangat kebetulan saya melihat DVD film ini terpajang manis di deretan rak film-film yang dijual Gramedia. Spontan saya merasakan hasrat yang menggelora untuk membeli film ini, mengingat reputasinya sebagai film klasik science fiction yang sangat legendaris. Namun melihat label harganya senilai Rp 129 ribu, membuat saya agak ragu-ragu dan hanya membolak-balik kemasan DVD itu, berharap menemukan alasan yang sangat bagus untuk tetap membelinya.

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan tindakan yang paling disukai oleh seluruh produsen di seluruh dunia, impulse buying! Saya berpikiran, "Tak ada salahnya sesekali menikmati sebuah film berkualitas yang cukup langka dengan harga dan kualitas sepadan." Apalagi DVD ini juga menyertakan 1 disc lagi berupa feature edition yang memang ditujukan bagi para kolektor. Cukup menyenangkan pula saat membayarnya di kasir, ternyata saya diberitahu bahwa Warner Bros sedang mengadakan promo mengizinkan saya memilih sebuah film DVD lagi dengan harga di bawah Rp 129 ribu :-)

Film "2001: Space Odyssey" ini disutradarai dan diproduseri oleh Stanley Kubrick ini diangkat dari novel karya Arthur C. Clarke. And guess what, film ini dibuat di tahun 1968! Adegan pembuka di film ini sudah jelas bukan merupakan adegan pembuka yang biasa kita saksikan di film-film Hollywood yang penuh aksi. Bahkan kenyentrikan film-film Quentin Tarantino pun terasa menguap cepat bila dibandingkan dengan film ini. Bayangkan saja, film ini dibuka dengan scene kehidupan primata-primata prasejarah yang kelak menjadi cikal bakal manusia. Stanley Kubrick dengan jenius mengisahkan kehidupan mereka yang primitif, liar, sekaligus rapuh. Kera-kera purba ini harus bertahan hidup di alam yang keras, bersaing dengan tapir untuk memakan tumbuhan dan lumut, serta masih harus menghadapi serangan tiba-tiba macan tutul. Seakan masih kurang, mereka juga harus bersaing dengan kelompok kera lain untuk memperebutkan sumber air.

Jadi bayangkan saja bahwa sepanjang adegan pembuka, tidak ada dialog, narasi, atau teks sama sekali (kecuali jeritan-jeritan kera purba dan sekali raungan macan tutul). Tetapi buat saya pribadi, visualisasi adegan itu tergambar sangat jelas dan bahkan lebih kuat dari sekadar kata-kata biasa. Saat malam tiba, kera-kera primitif ini berusaha tidur di sebuah bukit karang dan mereka merasa sangat gelisah. Hingga keesokan harinya sangat bangun, kegelisahan mereka semalam seolah terwujud dalam sebuah batu misterius yang mendadak muncul di hadapan mereka. Batu hitam monolith berbentuk balok yang diam membisu itu membingungkan para kera yang berteriak-teriak ketakutan, sampai mereka akhirnya berani menyentuh batu tersebut untuk memuaskan rasa penasaran mereka.

Tiba-tiba dari sana, mendadak salah satu dari mereka seolah berubah menjadi spesies yang lebih cerdas! Seekor kera terlihat mengamati potongan tulang tapir dan mengambil sepotong tulang terbesar. Setelah dipegang-pegangnya dalam genggaman tangan, ia mulai memukul-mukulkannya dan menyadari bahwa tulang di tangannya bisa menjelma menjadi senjata yang menakutkan. Lewat tulang itulah, mereka bisa mengusir tapir, membunuhnya untuk mendapatkan protein dagingnya, dan yang paling penting lagi, mereka bisa mengusir kawanan kera lainnya dengan memukul mati pemimpin kera yang mencoba melawan dan menguasai kembali sumber air mereka sebelumnya. Secara jelas, Kubrick sedang mengkonstruksi ulang rekaan mengenai lompatan evolusi yang terjadi dari spesies kera primitif menjadi spesies kera setengah cerdas yang kelak menjadi manusia.

Saya amati, kostum yang dibuat untuk memerankan kera-kera primitif itu cukup bagus, apalagi bulu-bulunya terlihat sangat natural. Gesture yang diperagakan oleh aktor pemeran kera-kera itu pun cukup luwes, walaupun saya menilai topeng kera mereka masih sedikit aneh, ditambah mungkin waktu itu belum ada teknologi softlens mata yang unik, sehingga mata kera-kera itu masih terlihat seperti mata manusia. Yang unik, untuk mendapatkan peran anak-anak kera tersebut, mereka tidak mengambil anak kecil atau orang cebol, melainkan memutuskan untuk menggunakan anak simpanse! Pantas saja saya melihat gerakan-gerakan anak-anak kera dalam film ini sangat natural sekali.

Di film ini diperlihatkan, setelah kera-kera itu berhasil membunuh pemimpin rival dan menguasai sumber air kembali, salah satu dari mereka berteriak bangga sambil melemparkan tulang ke langit. Di sinilah, Kubrick lagi-lagi memperlihatkan sisi eksentriknya, saat mendadak mengganti scene tulang yang terlontar ke langit itu menjadi scene sebuah satelit yang melintasi luar angkasa! Bayangkan sebuah kegagapan yang kontras antara zaman prasejarah dimana manusia masih berupa gorila berbulu dengan adegan zaman luar angkasa! Berikutnya, film ini akan menceritakan mengenai abad penjelajahan antariksa manusia di tahun 2001.

Menariknya, sepanjang film, Stanley Kubrick dengan sangat luar biasa memberikan berbagai deskripsi yang detail mengenai berbagai ramalan teknologi masa depan menurut interpretasinya. Ada pesawat-pesawat antariksa, stasiun luar angkasa, pendirian pangkalan antariksa di bulan, keadaan tanpa bobot di dalam pesawat antariksa, seragam para astronot, bahkan sampai menu makanan instan para astronot. Sekadar informasi, film ini dibuat bahkan sebelum Neil Armstrong mendarat di bulan pada tahun 1969! Di film ini juga digambarkan mengenai teknologi telepon masa depan berupa videophone, serta teknologi Artificial Intelligence. Film Kubrick inilah yang kelak menginspirasi George Lucas menciptakan Star Wars yang legendaris tersebut. Bahkan menurut saya, film ini lebih akurat daripada film-film antariksa Hollywood lainnya karena tidak ada suara yang muncul saat adegan-adegan di luar angkasa yang memang kedap suara akibat tidak adanya udara sebagai penghantar.

Emosi yang kuat bagi saya, ada di akhir bagian dari film. Dikisahkan bahwa saat itu, manusia berencana untuk mendarat di Planet Jupiter. Untuk itu, mereka meluncurkan sebuah roket yang dihuni oleh beberapa astronot yang dibuat dalam kondisi hibernasi dan semuanya dikendalikan oleh sebuah super-computer paling cerdas yang pernah dibuat manusia, HAL 9000 Series. (Konon nama HAL diambil dari nama "IBM" yang digeser satu huruf). Masalah mulai timbul saat HAL mulai mengambil keputusan untuk melenyapkan para astronot itu satu persatu karena menganggap mereka menghalangi misi. Sementara para astronot itu berpendapat bahwa ada yang tidak beres dengan mesin ini dan langkah paling aman adalah menonaktifkannya sementara sampai situasi lebih lanjut. Sejujurnya, saya merasakan bahwa film "Eagle Eye" yang dibintangi Shia LaBeouf dan diproduksi tahun 2008 ini sangat mirip dengan salah satu bagian dari film "2001: Space Odyssey" ini. Betapa tidak, bayangkan saja sebuah super-computer yang maha cerdas, bisa berpikir, belajar dari kesalahan-kesalahannya, dan mempunyai akses kendali ke mana pun, dan ia melawan manusia. A ghost in the machine! Kemiripan lainnya adalah super-computer ini sama-sama menggunakan kemampuannya membaca bibir untuk menganalisis pembicaraan saat sambungan audio dimatikan.

Pada akhirnya, melalui semangat juang yang tidak bisa diperkirakan oleh sebuah komputer, seorang astronot bernama Dave Bowman berhasil mengalahkan HAL dengan mencabut prosesor-prosesor untuk membunuhnya pelan-pelan. Disinilah HAL serasa seperti mahluk yang sedang terluka. Melalui suaranya yang diprogram untuk terdengar lembut dan tenang, HAL berusaha membujuk Dave untuk membatalkan tindakannya tersebut, bahkan termasuk bernyanyi! Setelah pesawat dalam kondisi penguasaan manual penuh, Dave memutuskan untuk mengendarai space aircraft yang lebih kecil untuk mendarat di Jupiter.

Nah, di scene inilah, kegilaan Stanley Kubrick semakin menjadi-jadi. Saat mengorbit di dekat Jupiter, Dave tiba-tiba mengalami sebuah fenomena astrologi yang sangat luar biasa dan terlihat sebuah batu monolith melintas di hadapannya. Entah itu sebuah efek supernova atau halusinasi belaka, yang pasti sepanjang adegan, Dave mengalami halusinasi optik yang sangat kompleks, sampai saya tidak mampu mendeskripsikan dengan kata-kata disini. Setelah itu, semuanya gelap dan tenang...

Kemudian scene berganti menjadi sebuah ruangan bernuansa klasik yang mewah, dimana space aircraft yang ditumpangi Dave sudah ada di dalam ruangan itu. Dave terbujur tegang di dalam space aircraft dan melalui kaca depan, ia melihat sosok manusia berpakaian astronot seperti dirinya. Wajah dalam helm astronot itu terlihat dan nyata itu adalah wajah Dave sendiri. Tetapi wajah itu terlihat lebih tua 20 tahun, dan mendadak ruangan itu hanya berisi Dave seorang, sedangkan space aircraft yang berisi Dave yang lebih muda di dalamnya, menghilang.

Setelah itu dengan pandangan mata kosong, Dave mengamati pantulan wajahnya di cermin, lalu melangkah pergi. Ia tertarik dengan bunyi denting peralatan makan yang terdengar dari sebuah ruangan yang pintunya terbuka sedikit. Dave berhenti dan melongok, terlihat punggung sosok seorang pria bermantel beludru yang sedang makan. Pria yang sedang makan itu merasa ada yang mengawasinya dan ia menoleh. Dave di balik pintu menghilang lalu pria itu kembali meneruskan makannya. Tampak wajah pria itu adalah Dave sendiri yang mungkin berusia sekitar 70 tahun. Tanpa sengaja ia menyenggol segelas air di sampingnya sehingga pecah berantakan di lantai. Dave tua memandanginya sejenak lalu ia mendengar suara berdeham serak dari atas ranjang.

Kini scene memunculkan seorang pria botak tua lemah tak berdaya sendirian, terbaring di atas tempat tidur. Seperti Dave-Dave lainnya, pria tua yang sedang makan itu turut lenyap. Mendadak di hadapan Dave yang renta, muncul sesosok batu monolith yang misterius itu! Batu yang pernah membantu evolusi kera-kera purba, berjuta-juta tahun yang lalu dan saya hanya bisa menduga mungkin batu itu hasil peradaban lain yang lebih cerdas atau interpretasi Kubrick terhadap eksistensi Tuhan. Setelah itu, scene berganti dengan Dave yang masih berupa janin dan mengorbit mendekati Bumi...

Jelas bukan sebuah ending film yang disukai banyak orang. Saya sendiri bahkan menganggap visualisasi itu hanyalah interpretasi yang konotatif dari seorang Stanley Kubrick untuk menggambarkan harapan manusia akan keabadian dan kerinduan Dave untuk kembali pulang ke rumahnya di Bumi. Dave sendiri saya duga sudah lama tewas saat space aircraft-nya mungkin gagal mendarat di Jupiter atau terkena efek ledakan supernova.

Meskipun film "2001: Space Odyssey" ini dianggap mewakili prediksi masa depan yang cukup akurat, banyak ramalan-ramalannya terbukti meleset, misalnya:

1. Sekarang sudah akhir tahun 2009 dan manusia masih belum berhasil mengadakan perjalanan antariksa (bahkan mendarat di bulan untuk kedua kalinya pun belum pernah dilakukan).

2. Konsep videophone sebagai telepon masa depan sampai sekarang tidak pernah terealisasi, kecuali menjadi webcam.

3. Saat itu mereka belum meramalkan teknologi touchscreen dan layar datar. Terlihat waktu Dave bermain catur dengan HAL, ia menggunakan suara untuk menggerakkan pion-pion caturnya di layar komputer. Padahal kalau sekarang, tentu lebih masuk akal bila Dave menggerakkan pion catur lewat jarinya di layar touchscreen. Monitor-monitor yang ada di film ini pun kebanyakan masih cembung, seperti monitor TV di tahun 1970-an.

4. Visualisasi Planet Bumi di film ini menurut saya terlihat sedikit janggal, karena terlalu didominasi warna biru. Padahal kalau dilihat dari foto-foto di buku atau film-film Hollywood yang lebih modern, Bumi juga mempunyai warna coklat (warna daratan).

Overall, film ini sangat direkomendasikan! Film fiksi ilmiah terbaik di zamannya dan saya sangat berharap suatu saat film ini akan dibuat remake-nya :-)

Minggu, 13 Desember 2009

Serengeti: The Clash of Dominations




Sabda Darwin mengenai seleksi alam, bahwa yang terkuatlah yang menang terus menggema di dunia. Konsep survival of the fittest inilah yang menjadi roda-roda penggerak kompetisi yang terjadi di mana-mana, mulai dari pucuk dedaunan di atas pohon yang kering meranggas hingga ke hutan tropis yang basah. Dan kali ini kita bisa menyaksikan miniatur kompetisi tersebut di padang rumput Serengeti, Afrika.

Kompetisi yang keras dan kejam terus berlangsung untuk menghasilkan spesies-spesies yang lebih tangguh, lebih kuat, lebih cepat, dan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Alam seperti ibu tiri yang otoriter dan tidak pernah membiarkan anak-anaknya larut bermanja-manja, bahkan ini berlaku pula untuk para predator yang duduk nyaman di atas singasana piramida makanan pun. Persaingan dan bahaya bagaikan dua sisi keping uang logam yang terus-menerus silih berganti membayangi.

Alam selalu menyukai anomali dan kadang-kadang beberapa spesies berbeda terlibat dalam kontak yang sangat jarang terjadi namun berlangsung dengan sangat menakjubkan. Sebuah kesengajaan kecil dari alam untuk membentur-benturkan pion-pion di atas papan caturnya dan membiarkan pion-pion kecil itu sendiri untuk bereaksi sekaligus menyimpannya dalam memori masing-masing. Yang menang membawa kebanggaan dan menunjukkan dominasinya, yang kabur memendamnya sebagai pengalaman berharga, dan yang kalah akan terluka, cacat, atau mati dimakan.

Di padang rumput Serengeti Afrika yang bersemu kuning keemasan tertimpa matahari terik, terhampar jelas sebuah aura kebencian yang kasat mata namun mampu menggetarkan intuisi dari dua jenis predator berbeda. Predator pertama menyerupai seekor kucing raksasa dengan warna tubuh kekuningan yang merupakan kamuflase sempurna untuk mengendap dan mengintai dari antara ilalang Serengeti. Mereka merupakan penguasa utama tanah Serengeti. Singa Afrika begitu dipuja karena kekuatannya, kewibawaannya, dan ketenangannya. Predator kedua memilih wujud menyerupai anjing besar yang eksentrik. Kadang-kadang kita melihatnya melangkah seperti campuran mistis anjing dan beruang. Mereka merupakan tokoh oposisi yang licik, eksentrik, tetapi punya kekuatan misterius untuk melakukan agresi-agresi menakutkan kepada para singa. Hyena yang sendirian bukan masalah besar bagi singa dewasa. Tetapi sekelompok hyena dewasa yang lapar adalah horor, bahkan bagi sekelompok singa.

Bentrokan di antara keduanya kadang tidak dapat dihindari bila rasa lapar lebih kuat daripada rasa takut. Sewaktu sekelompok singa betina sukses menjatuhkan seekor wildebeest dewasa, dengan sigap singa-singa itu berpesta pora melahap setiap daging buruannya. Namun aroma pembunuhan itu dengan cepat menyebar dan diketahui kelompok pemburu lainnya. Belum puas para singa mengisi perutnya, hyena-hyena telah mengepung dan melancarkan intimidasi. Singa betina merasa terusik dan marah menerjang satu-dua hyena di dekatnya. Namun bukannya kabur, hyena yang lapar seperti ombak. Mereka mundur dua langkah untuk kembali maju dengan kekuatan yang lebih besar. Singa-singa merasa kendali peperangan berbalik arah, mereka berlarian dikejar hyena-hyena yang beringas. Salah seekor singa betina yang menyingkir tampak terpincang-pincang, luka di kaki belakangnya masih tergores segar. Di bawah sinar bulan yang anggun, para singa hanya memandang marah tak berdaya, menyaksikan bangkai wildebeest itu menjadi sasaran kerakusan para hyena. Malam itu berakhir untuk kemenangan hyena!

Di siang hari yang cerah, sekumpulan hyena sedang bermalas-malasan di teritorialnya sendiri. Tiba-tiba sekelebat bayangan kuning kecoklatan berlari dengan kecepatan penuh, mengincar seekor hyena muda yang malang. Seekor singa jantan dewasa berlari memburu dengan ketenangan seekor pemimpin dan didukung beberapa singa betina berlari di belakangnya. Melihat bahaya yang nyata, hyena itu berlari ketakutan dan teman-temannya hanya diam menyaksikan dari kejauhan. Mereka membutuhkan suntikan rasa lapar yang hebat sebagai doping untuk berani mengkonfrontasi seekor singa dewasa yang sedang marah! Kaki-kaki hyena yang pendek dan canggung (karena kaki belakangnya lebih pendek) jelas bukan tandingan kecepatan singa yang marah. Dengan mudah singa jantan itu mengaitkan kaki depannya, menjegal kaki belakang hyena sehingga ia terjungkal dan seketika singa jantan itu mengigit lehernya dengan brutal. Hyena itu meronta dan menjerit-jerit namun singa penuh pengalaman itu tetap diam mengatupkan rahangnya yang besar, berusaha mematahkan leher si pengecut. Setelah hyena itu diam tak bergerak, singa itu bergegas pergi sembari mengaum menunjukkan dominasinya sebagai pemimpin alfa. Dengan jelas ia menuntut pembayaran yang adil kepada para hyena atas rusaknya perburuan singa betina semalam. Singa dan hyena akan cenderung saling menyerang tanpa memerlukan alasan apa pun.

Suatu saat di belahan padang rumput lainnya yang gersang, seekor singa jantan muda yang depresi melangkah gontai meninggalkan kawanannya. Mungkin karena kalah berkompetisi atau sedang sakit, singa muda ini jelas tampak sangat kurus dan tidak sehat. Setelah melangkah cukup jauh tanpa tujuan, singa yang surai rambutnya belum tumbuh sempurna ini merasa lelah dan memutuskan berbaring menunggu ajalnya tiba. Menjelang senja, sekelompok hyena yang berpatroli mencium bau bangkai yang paling mereka tunggu-tunggu! Dengan penuh hati-hati mereka menyelidik seolah memastikan bahwa singa muda yang berbaring kaku di hadapan mereka benar-benar telah mati. Tanpa menunggu waktu lama, dengan segera mereka mulai menyosorkan moncong, melubangi perut kurus singa itu dan memakan isinya. Sementara kawan mereka melahap, beberapa hyena menunjukkan perilaku anehnya. Tampak jelas mereka dengan ekspresi nyaman menggosok-gosokan tubuhnya ke bangkai singa tersebut. Mungkin ini adalah simbol penghinaan dari kaum hyena kepada para singa. Atau mungkin juga hyena berharap bisa memanfaatkan bau singa di tubuhnya untuk keuntungan dirinya.

Jauh dari keributan para hyena dan singa, sekumpulan badak sedang bersantai berkubang lumpur. Badak Afrika dewasa seperti sebuah panser lapis baja dengan palu godam di ujungnya yang akan mendobrak rintangan apa pun di hadapannya. Dari balik semak-semak, tiba-tiba menyeruak seekor gajah jantan muda sendirian menghampiri badak-badak tersebut. Gajah itu mengeluarkan suara terompetnya yang nyaring dengan belalainya sengaja membuat kegaduhan. Para badak yang terusik segera keluar dari kubangan lumpur dan badak yang terbesar dari mereka menyambut tantangan gajah tak tahu diri tersebut.

Dua mahluk raksasa Afrika bertemu dan keduanya saling menunjukkan dominasinya satu sama lain, menciptakan kepulan debu yang menyelimuti kawasan tersebut. Gajah dengan tubuhnya yang lebih besar, mendorong perlahan melalui tulang kepalanya dan melawan dengan gadingnya, sementara badak menubrukkan culanya. Para ilmuwan menduga perilaku gajah muda yang meledak-ledak ini adalah untuk melampiaskan emosinya sekaligus menunjukkan dominasinya. Di akhir kisah, para badak memutuskan untuk pindah mencari tempat yang lebih tenang tanpa diganggu mahluk gila yang lebih besar dari mereka. Sementara gajah muda itu terlihat merasa puas namun terlihat luka-luka lecet di gadingnya akibat hantaman cula. Kadang-kadang konfrontasi yang buas dapat mengakibatkan badak terluka parah di leher bawah terkena gading gajah. Luka yang menganga parah dengan perlahan akan membunuh si badak.

Di kesempatan lain, seekor buaya terlihat sedang tertawa girang melihat kawanan gazelle yang menyeberangi sungai. Para gazelle terlihat gugup menyeberangi sungai karena merasakan bahaya, sementara buaya dengan dingin semakin mendekati mereka. Dengan gerakan sekejap mata, seekor gazelle betina yang malang segera disambar oleh seekor buaya muda. Paha gazelle itu tertangkap rahang kokoh penuh gigi tersebut. Gazelle itu meronta-ronta dengan putus asa. Tetapi butuh sebuah mukjizat untuk bisa melepaskan diri dari gigitan buaya yang selalu lapar.

Namun siang itu alam sedang bermurah hati. Entah merasa terganggu atau merasakan iba, seekor kuda nil dewasa di tepian sungai dengan agresif berenang menuju ke buaya tersebut. Kuda nil itu dengan jelas memperlihatkan ekspresi marah, membuka mulutnya yang lebar, memperlihatkan rahangnya yang besar dengan empat taring yang mencuat. Buaya muda itu sadar diri, kadang-kadang seekor predator yang dominan pun harus mengerti kapan saatnya mundur dari situasi yang genting. Saat buaya itu membuka rahangnya, dengan cepat gazelle malang itu melesat ketakutan menuju daratan.

Gazelle betina yang nyaris mati disambar buaya itu terduduk di daratan dengan sekujur tubuh gemetar ketakutan. Inilah mukjizat yang sesungguhnya terjadi, kuda nil dewasa tadi tiba-tiba keluar dari sungai dan menghampiri gazelle tersebut. Dengan bahasa tubuh lembut keibuan, kuda nil itu mengendus-enduskan moncongnya ke kepala gazelle, seolah memberikan simpati dan semangat kepadanya untuk meneruskan hidup. Setelah beberapa saat, akhirnya kuda nil itu meninggalkannya setelah menyadari bahwa gazelle itu terluka parah dan terlalu lemah untuk berjuang. Burung-burung nasar yang sudah berkerumun di sekelilingnya dengan serta-merta mulai berpesta menotoli gazelle yang sudah sekarat tersebut. Namun ada satu pihak yang marah dan ingin merusak pesta para burung nasar. Reptil prasejarah itu keluar dari sungai dan dengan penuh rasa dongkol mengusir burung-burung nasar lalu menyeret bangkai gazelle kembali ke dalam sungai, sementara burung-burung itu hanya bisa berkoar-koar protes tak berdaya.

Sabtu, 28 November 2009

Balada Ibukota



Sigghhhh! Hampir tiap hari saya pulang-pergi selalu melewati daerah "neraka", yaitu Palmerah yang nyaris selalu sukses membuat saya geram, marah, prihatin, sedih, dan akhirnya menjadi apatis larut ke dalam kekosongan harapan. Ada apa gerangan? Karena di Palmerah itulah bercokol markas besarnya spesies-spesies antik bernama Sopir Angkot yang menyumbang kontribusi terbesar dalam menciptakan jalanan yang kumuh dan super duper macet di kawasan Palmerah - Kemanggisan.

Dari tempat tinggal kos saya di Kemanggisan, melewati Palmerah, hingga akhirnya melaju bebas di Jl. Gatot Soebroto, kalau dalam kondisi normal, biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja (bahkan kalau lenggang bisa membutuhkan hanya 5 menit saja). Tetapi kalau sedang macet, waktu paling cepat yang dibutuhkan bisa mencapai setengah jam! Lagi-lagi penyebab utamanya tak lain dan tak bukan adalah sopir-sopir angkot. Bahkan yang membuat saya tak bisa menahan emosi adalah sudah jam 22.30 malam pun, angkot-angkot masih sibuk ngetem! Padahal jalanan di depan angkot-angkot sangat lenggang. Sopir angkot sengaja menciptakan delusi kemacetan dan menyukainya karena semakin tampak macet jalanan, semakin lama mereka ngetem, dan itu berarti probabilitas jumlah penumpang yang menaiki angkotnya akan meninggi.

Sepanjang pengamatan saya, kepadatan kendaraan di kawasan Palmerah terjadi karena beberapa alasan, yaitu:

1. Jumlah kendaraan yang memang melimpah-ruah karena jam berangkat kerja atau jam pulang kerja. Hal ini jelas merupakan sebuah kewajaran yang tidak bisa dihindari.

2. Adanya Pasar Palmerah, dimana para penjual sangat banyak berjualan sembarangan hingga memakan sebagian bahu jalan. Belum lagi para pembeli dan pejalan kaki di sekitarnya yang ikut hilir-mudik. Aktivitas pedagang pasar di pinggir jalan berlangsung dari subuh hingga subuh lagi!

3. Banyaknya para pejalan kaki yang menyeberang jalan seenaknya sendiri sehingga turut menghambat kelancaran arus lalu lintas. Malah saya sangat heran sekali melihat banyak orang-orang tolol yang malah nekad menyeberang jalan saat lampu lalu lintas menyala hijau! (Apa mereka tidak tahu arti dari warna lampu lalu lintas, sedang buru-buru sehingga tidak mau menunggu lampu menyala merah, atau memang benar-benar tolol?)

4. Di perempatan Rawabelong, sangat banyak kendaraan (terutama sepeda motor dan angkot) yang tidak memperhatikan lampu lalu lintas. Meskipun lampu lalu lintas sudah menyala merah, tetap saja mereka melajukan kendaraannya. Tentu saja ini juga berdampak pada kemacetan lalu lintas.

5. Terakhir, alasan yang paling jelas dan nyata, para sopir angkot yang dengan mudahnya mengetem (menghentikan kendaraannya untuk menunggu penumpang naik) di sembarang tempat, sesuka hatinya sendiri. Hal ini diperparah dengan para calon penumpangnya yang juga naik-turun angkot seenak udelnya sendiri.

Padahal andaikan saja kita semua mau mendisiplinkan diri dalam berlalu lintas, saya optimistis bahwa kemacetan di jalan bisa direduksi sekitar 20-30%. Namun saya sangat sadar bahwa fenomena ketidakdisiplinan beberapa pihak di jalanan bukan sebuah fenomena tunggal, melainkan merupakan satu reaksi berantai dari penyebab-penyebab lainnya yang saling berhubungan.

Misalnya saja, mengapa pejalan kaki terpaksa berjalan kaki di bahu jalan sehingga menghambat arus lalu lintas? Karena trotoar yang merupakan tempat bagi pejalan kaki sudah diinvasi oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menggelar dagangannya, mendirikan warung dadakan, menempatkan lapak-lapak, dsb. Kalau para PKL itu ditertibkan oleh Satpol PP, maka mereka akan memprotes dan berbalik melawan dengan dalih "Saya berhak cari makan disini", atau "Jangan cuma bisa gusur saja tapi tidak memberi solusi". Ini jelas mencerminkan mental egoisme kelas rendah yang terkesan mau menangnya sendiri. Apakah Pemkot harus selalu menyediakan tempat bagi para PKL itu untuk berjualan? Padahal mereka datang sendiri dan berjualan atas inisiatif sendiri, dan selalu ada wajah-wajah baru yang menjadi PKL. Kalau Pemkot harus selalu menyediakan lahan berjualan untuk mereka semua secara terus-menerus, saya kira lahan seluas 200 hektar pun akan habis tak tersisa. Namun Pemkot sendiri juga turut bersalah dalam hal ini karena mereka tidak menggusur para PKL saat jumlahnya masih 2-3 orang. Mereka menunggu setelah jumlahnya mencapai 500 orang dan memacetkan jalan, barulah mereka bertindak. Ini sama saja dengan membiarkan penyakit kanker mencapai stadium 4 baru memeriksakan diri ke dokter.

Analisis saya selanjutnya, mengapa angkot selalu ngetem sembarangan? Karena:

1. Mental dan kesadaran berlalu lintas para sopir angkot yang sangat memprihatinkan. Mereka tidak peduli dengan pengguna jalan lainnya karena hanya dengan ngetem seenak udelnya itulah mereka bisa leluasa mengangkut penumpang sebanyak-banyaknya sehingga bisa memenuhi setoran. Seandainya mereka patuh untuk tidak menaik-turunkan penumpang di sembarang tempat, pasti uang yang mereka dapat akan berkurang, sedangkan ia tidak memperoleh keuntungan apa-apa dari tindakan patuhnya tersebut. Malah mungkin sesama teman angkotnya yang tetap ngetem ngawurlah yang menikmati penumpang-penumpang yang tidak terangkut tersebut, sehingga sopir angkot itu mungkin berpikiran, "Daripada saya disiplin tapi setoran kurang, malah penumpang-penumpang yang bisa saya angkut diambil teman saya, lebih baik saya tetap ngawur, asalkan bisa dapat penumpang banyak".

2. Penumpangnya sendiri yang tidak disiplin naik-turun sembarangan. Ini bagaikan lingkaran setan, kita tidak bisa memutusnya hanya dari salah satu pihak. Mendisiplinkan sopir angkot tanpa mendisplinkan calon penumpangnya sama saja seperti usaha menegakkan benang basah, demikian pula sebaliknya.

Nah, pertanyaan selanjutnya, mengapa para penumpang doyan naik-turun sembarangan? Karena pemerintah tidak membangun halte dalam jumlah cukup dengan kondisi yang memadai. Banyak halte-halte yang dibiarkan terbengkalai dan malah menjadi tempat mangkalnya pengamen-pengamen jalanan atau tempat alternatif berjualan bagi para PKL. Faktor lain yang tidak kalah dominan adalah mental kemalasan calon penumpangnya sendiri yang enggan berjalan sedikit ke halte menunggu angkot. Mereka lebih suka dimanjakan dengan naik-turun angkot langsung di depan tempat ia berdiri. Orang Indonesia memang sudah terlanjur dimanjakan oleh nikmatnya teknologi transportasi, sehingga hanya berjalan kurang dari 50 meter pun sudah memilih menaiki sepeda motor.

Padahal sepeda motor dalam jumlah banyak seperti minyak yang disiramkan ke bara api. Memang volume sebuah motor di jalan sangat lebih kecil dibanding mobil (volume sebuah mobil mungkin sama dengan volume 4-5 motor). Tetapi di jalanan, mobil-mobil pada umumnya selalu cenderung berbaris rapi sementara motor selalu cenderung bergerak sporadis, tidak terarah, acak, dan ingin selalu di barisan depan. Inilah yang menjawab mengapa sebuah kota yang memiliki pertumbuhan motor yang mengagumkan dapat dipastikan mempunyai masalah dengan kemacetan lalu lintas.

Kembali ke masalah utama, fenomena ngetemnya angkot, sebenarnya polisi bukannya tidak tahu masalah itu. Mereka sangat tahu dan saking seringnya tahu akhirnya mereka menjadi tutup mata dan tahu sama tahu. Saya bisa memaklumi keapatisan polisi karena mental sopir angkot ini sungguh bebal. Mereka tidak takut ditilang bahkan disita STNK-nya pun tak jadi soal, yang penting mereka tetap bisa mengangkut penumpang, membayar setoran ke juragan angkot, dan membawa uang cukup untuk anak-istri. Kepentingan perutlah yang membuat otak dan hati mereka melorot hingga ke dasar dubur. Padahal secara matematis, andaikan setiap angkot rata-rata berhenti selama 3 menit, maka 10 angkot berjajar ngetem sudah membuat Anda kehilangan waktu selama 30 menit!

Di jalanan dimana angkot ngetem, sesekali tampak seorang pria berseragam sebuah ormas meniup peluit sambil membawa pentungan, seolah-olah menyuruh angkot untuk segera bergegas dari aktivitas ngetemnya. Padahal mereka ini sebenarnya adalah partner kerja dengan sopir-sopir angkot tersebut. Mereka mengizinkan angkot ngetem di sana dan sebaliknya sopir angkot pun harus memberikan setoran beberapa Rupiah untuk "uang keamanan". Intinya, kehadiran "polisi-polisi" swasta gadungan ini nyaris tidak berpengaruh terhadap ngetemnya angkot. Saya sendiri sudah merasa apatis terhadap kelakuan sopir-sopir angkot. Diklakson berkali-kali tetap tak bergeming, diteriakin atau dipelototin malah balik menantang atau memasang wajah innocent bak dizalimi. Yang menjengkelkan lagi, tak jarang saat ngetem, mereka tidak sungkan-sungkan menyerobot masuk ke antrian kita tanpa perasaan bersalah.

Secara psikologis pun saya memahami bahwa betapa tingkat pendidikan seseorang turut mempengaruhi kelakuan dan pola pikirnya. Pengamatan saya pada beberapa sopir angkot turut memperkuat hipotesis saya tersebut. Saya sangat sering menjumpai sopir angkot yang membuang sampah saat sedang melaju di jalan, mulai dari kacang, rokok, hingga botol minuman!

Memang mencoba menyelesaikan masalah-masalah di atas tidaklah semudah membalik telapak tangan. Walaupun begitu, saya mencoba menawarkan beberapa solusi, yaitu:

1. Melakukan revolusi radikal terhadap cetak-biru infrastruktur jalanan di Indonesia, dengan membagi 3-4 lajur dimana untuk kendaraan umum wajib berada di lajur paling kiri dan saat berhenti di halte, jalanan dibuat agak masuk ke dalam trotoar. Ini membuat saat angkot/bus berhenti di halte, tidak akan membuat kendaraan-kendaraan di belakangnya ikut berhenti pula.

2. Melakukan pembatasan angkot, mungkin dengan dilihat dari kondisi kelayakan kendaraan. Karena sepanjang yang saya lihat di Palmerah-Kemanggisan, jumlah angkot sudah terlalu banyak. Bayangkan saja masa sebuah angkot melaju dan tepat di belakangnya sudah ada 3 angkot lagi berjejeran.

3. Mengubah sistem gaji sopir angkot menjadi gaji bulanan plus komisi karena dengan adanya sistem setoran, sopir angkot berlomba-lomba saling ngetem berebut penumpang sebanyak-banyaknya dengan cara apa pun.

4. Memaksa juragan angkot dan ORGANDA untuk melakukan supervisi ketat dan review secara berkala terhadap para sopir angkot dan kendaraannya dengan hasil yang bisa dipertanggungjawabkan.

5. Membangun halte dalam jumlah cukup dan memadai bagi para calon penumpang.

6. Nah ini yang paling sulit, bisakah kita mengubah kebiasaan calon penumpang angkot/bus untuk mau berjalan dan menunggu di halte terdekat?

7. Sudah saatnya Jakarta mempunyai sarana transportasi massal yang aman, nyaman, dan terintegrasi. Hanya dengan begitu para pengguna kendaraan pribadi mau beralih menggunakan transportasi umum.

Pendek kata, biarpun ada seorang polisi lalu lintas yang ditempatkan setiap jarak 10 meter untuk mengawasi, bila kedisiplinan berlalu lintas belum ada dalam diri kita masing-masing, maka mengharapkan sebuah keadaan lalu lintas yang tertib, aman, dan manusiawi pun sama mustahilnya dengan mengharapkan seekor ayam mempunyai gigi.