Tampilkan postingan dengan label Movie Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie Review. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juni 2010

Oceans


"Suatu hari, seorang anak lelaki yang melihat laut bertanya kepadaku, apa itu samudra?"

Film ini dibuka dengan kalimat pertanyaan tersebut. Seorang anak lelaki dengan pandangan polos penuh harap bertanya kepada seorang pria paruh baya di hadapannya. Pria itu lantas dengan penuh kebapakan mengantarnya masuk ke dalam dunia menakjubkan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Entah mengapa pertama kali saya membaca kalimat pembuka tersebut, saya jadi teringat kisah sastra "The Old Man and The Sea" milik Ernest Hemingway.

Oceans merupakan sebuah film dokumenter Perancis yang bercerita mengenai samudra dan kehidupan di dalamnya. Meskipun berjenis film dokumenter, namun Jacques Perrin dan Jacques Cluzaud menyajikan film ini dengan sangat menarik; terasa hidup, dramatis, dan membebaskan penonton dari segala interpretasi serta impresi yang menggurui. Film ini sebelumnya sudah diputar secara terbatas pada Festival Sinema Perancis 25 April lalu di Platinum XXI FX Plaza (sebenarnya Oceans memang dijadwalkan dirilis bertepatan dengan Earth Day 22 April di seluruh dunia). Sungguh beruntung akhirnya film ini diputar lagi untuk publik di bioskop 21 (meskipun hanya terbatas di bioskop-bioskop 21 tertentu saja) dan pada bulan Juni ini, akhirnya saya berkesempatan menontonnya!

Mahluk pertama yang hadir di film ini adalah seekor reptil yang memiliki kemampuan adaptasi yang mengagumkan, seekor iguana laut. Meskipun memiliki fisik yang serupa dengan iguana biasa, namun reptil ini mampu menyelam di lautan lepas sembari memakan rumput-rumput laut. Anda akan menyaksikan bagaimana reptil ini berenang mengibaskan ekornya dengan luwes, dan selama persekian detik saya merasa seperti menonton seekor monster prasejarah yang sedang berenang di lautan di sebuah film Hollywood. Kemudian di pesisir pantai, beberapa horse shoe crab terlihat mendarat dan berkumpul. Mereka adalah mahluk-mahluk bercangkang yang membuat Anda merasa mengunjungi kembali Bumi di awal zaman Pleistosen. Tetapi bagian terbaiknya adalah di saat narasi film ini bertutur bahwa prasangka kita selama ini bahwa kehidupan di alam selalu sama dan berulang-ulang tiap generasi adalah salah sebab perubahan datang begitu cepat. Kemudian tampaklah kumpulan iguana laut yang sontak merasa gugup saat di langit kejauhan terbit sesosok matahari yang terang dengan suara yang sangat menggetarkan diikuti kepulan debu raksasa. Sosok matahari itu pelan-pelan terus naik tinggi dan memperlihatkan wujud aslinya, sebuah roket milik peradaban cerdas.

Berikutnya serombongan ubur-ubur raksasa berwarna kuning mencolok terlihat beriringan menyeberangi lautan dengan ritme tubuh yang rileks seolah mereka semua telah memiliki kesepakatan telepatik untuk sampai di sebuah tempat tujuan yang sama. Kemudian sekumpulan ikan-ikan kecil dengan sisik-sisiknya yang berkilauan dengan koreografi yang indah bergantian membentuk beragam bentuk-bentuk yang mengagumkan. Dan sudah menjadi hal yang pasti bahwa sekumpulan spesies kecil akan selalu mengundang predator dalam jumlah banyak. Tiba-tiba seperti undangan yang sudah tersebar luas, sekawanan lumba-lumba dengan cicit riang berjumpalitan menyambar ikan-ikan tersebut, ikan sailfish membelah lautan dengan moncong tombak dan kecepatannya yang luar biasa, ikan-ikan pari yang melayang anggun, burung-burung camar yang terbang tinggi lalu menukik turun menyelam ke laut mematuk ikan-ikan, dan tak ketinggalan di sudut perburuan beberapa ikan hiu dengan langkah penuh percaya diri melahap ikan-ikan yang ada. Seperti sudah direncanakan sebagai pesta meriah yang menyenangkan semua tamu, paus bungkuk ikut berpartisipasi di tengah-tengah keramaian, dan akhirnya film ini menangkap sebuah pertunjukan utama yang spektakuler dari alam, di saat paus bungkuk ini menyibak ke atas permukaan lautan dan di sekelilingnya burung-burung camar seolah bergantian meluncur masuk ke lautan seperti sederet peluru yang ditembakkan secara berurutan, seolah menonton sebuah pertunjukan teater Broadway yang memukau!

Kita juga akan menelusuri keanekaragaman kehidupan di dalam lautan. Keajaiban yang memancar dalam spesies-spesies indah yang belum pernah kita saksikan sebelumnya. Mahluk-mahluk unik berwarna cerah mencolok atau pun bersirip luar biasa menakjubkan sehingga membuat mata kita seolah menyaksikan parade busana milik mahluk-mahluk bawah laut. Anda bahkan akan merasa tidak lagi berada di Bumi namun di sebuah planet asing saat menyaksikan gerombolan kepiting-kepiting yang merangkak dan bertumpuk-tumpuk di dasar samudra. Teman saya berkelakar bahwa mereka mengingatkannya pada mahluk-mahluk arachnida di film Starship Troopers.

Rasakan pula aura keagungan yang menyelubungi saat beberapa paus bungkuk (humpback whale) terlihat bergerak dengan penuh keanggunan. Dengarkan pula gaung suara-suara paus yang membahana, mengumandangkan kebijaksanaan kuno yang merasuk di setiap hati manusia yang mendengarkannya, membuat saya seperti merasakan bahwa mereka bukan hanya mahluk terrestrial namun juga mahluk spiritual.

Begitu pula dengan lumba-lumba yang selalu terlihat aktif dan ceria. Tatapan mata mereka yang cerdas disertai serentetan pulsa cicitan riang, mengesankan bahwa mereka adalah spesies yang mampu bersosialisasi dan mengenali eksistensi dirinya sendiri. Konon lumba-lumba merupakan spesies yang bahkan lebih cerdas dari simpanse. Tidak ketinggalan anjing laut, walrus, pinguin, dan beruang kutub juga ikut dihadirkan di dalam film ini.

Yang juga membuat saya merinding adalah saat film ini menangkap dengan begitu mendetail, lompatan seekor hiu putih raksasa (great white shark) yang menelan hidup-hidup seekor anjing laut di udara! Ketika anjing laut itu merasa frustasi tidak mampu meloloskan diri dari kejaran hiu, ia mencoba melompat ke udara untuk menyelamatkan diri namun ternyata seekor hiu putih raksasa juga mampu melompat ke udara sebaik anjing laut tersebut. Ada pula kisah mengenai kegigihan anak-anak penyu yang harus segera mencapai lautan lepas saat mereka baru saja menetas. Bila mereka berhenti sebentar saja, dengan segera burung-burung tanpa sungkan menyambar dan menjadikan mereka sebagai kudapan lezat.

Kehidupan di samudra lepas penuh warna sekaligus bahaya. Para predator berkeliaran dimana-mana dalam bentuk apa saja. Namun samudra belum pernah menghadapi musuh yang paling berbahaya dari semuanya sepanjang sejarah, yaitu kita, Homo sapiens. Peradaban modern semakin mencemari samudra dengan sampah-sampah sekaligus polusi yang mengalir deras dari arteri-arteri sungai, langsung menusuk menuju jantung samudra. Sebuah adegan terekam saat seekor anjing laut berenang di lautan dangkal yang penuh sampah, termasuk sampah berbentuk sebuah keranjang troli supermarket!

Di sebuah tempat di lautan, terdapat sebuah dinding panjang kokoh yang menghadang perkasa ombak-ombak samudra. Dinding-dinding yang terbuat dari jalinan jaring-jaring yang setiap harinya menjerat begitu banyak mahluk-mahluk indah di lautan. Bahkan seekor paus bungkuk pun tidak mampu melepaskan diri dari jerat tersebut. Mahluk-mahluk tersebut tidak dapat meloloskan diri. Semakin meronta-ronta, semakin erat mereka terjerat dan pelan-pelan kematian akan menghampiri memeluk mereka yang tertambat di antara jaring-jaring yang terbentang luas tersebut.

Perburuan adalah salah satu bagian dari dominasi manusia, beberapa di antaranya nyaris tidak bisa dibedakan dengan pembantaian. Terlihat saat kapal-kapal raksasa meluncurkan peluru-peluru harpun yang menusuk paus-paus malang sehingga lautan berbuih merah penuh darah. Demikian pula aksi pembantaian massal lumba-lumba di wilayah Taiji, Jepang (adegan ini diekspos secara mendetail di film dokumenter lainnya, The Cove). Tetapi adegan yang paling memilukan adalah saat beberapa nelayan berwajah oriental menangkap seekor ikan hiu biru (blue shark). Dengan cekatan mereka memotong semua sirip dan ekornya lantas melemparkan kembali hiu tersebut ke lautan dalam kondisi hidup-hidup! Hiu itu pelan-pelan tenggelam tak berdaya ke dasar lautan yang dingin. Mulutnya yang membuka-menutup seolah berteriak kesakitan tanpa suara dan matanya yang hitam bulat penuh seperti merefleksikan semua ketidaktahuannya mengapa ia harus dihukum seperti itu. Di Asia, sirip dan ekor hiu memang laris-manis menjadi makanan mahal dan bahan obat-obatan walaupun menurut penelitian sesungguhnya manfaat sirip dan tulang rawan hiu selama ini terlalu dilebih-lebihkan. Rasa lezat yang tersaji di santapan sirip ikan hiu sebenarnya tak lebih dari kaldu ayam yang menyertainya.

Film Oceans berusaha membuktikan bahwa sebenarnya manusia bisa hidup berdampingan dengan spesies-spesies lain. Sungguh mengagumkan melihat seorang penyelam berenang bersama seekor paus bungkuk. Manusia yang kecil dan terlihat rapuh di hadapan sesosok mahluk raksasa yang mempesona. Paus itu seakan mengerling dan membiarkan penyelam tersebut sedekat mungkin dengan dirinya, memamerkan aura kewibawaannya yang menyeruak keluar. Bahkan ada pula seorang penyelam yang berenang berdampingan dengan seekor ikan hiu biru! Predator tersebut bahkan seolah terlihat tidak menghiraukan kehadiran penyelam tersebut. Gambaran hiu di film-film Hollywood benar-benar terlalu berlebihan.

Sebagai mahluk yang paling cerdas sekaligus rakus, manusia adalah ancaman sekaligus harapan bagi alam. Banyak kepunahan spesies-spesies yang diakibatkan oleh kesembronoan manusia. Pria paruh baya itu bertanya kepada orang-orang yang tidak kelihatan di sebuah museum yang memajang ratusan koleksi hewan-hewan laut yang diawetkan, "Apakah kita akan membiarkan daftar kepunahan mahluk-mahluk ini terus berlanjut?" Pria itu lantas mengajak anak laki-laki itu menatap pemandangan samudra yang gemerlap penuh mahluk-mahluk eksotik yang berenang di dalamnya. Akankah keajaiban ini kelak harus kita saksikan terkungkung di sebuah akuarium kaca raksasa buatan manusia karena kita tidak mampu menjaganya di samudra lepas di luar sana?

Buat saya pribadi, duo Jacques menampilkan sebuah film dokumenter yang sangat indah sekaligus memukau mengenai samudra dan Bumi. Film ini ditampilkan dengan kualitas visual yang sangat baik, sinematografi yang menakjubkan, dan audio yang sangat jernih (Anda bahkan dapat mendengarkan suara penyu dan kecipak air dengan jelas) dan juga diiringi musik-musik orkestra yang menyenangkan. Saya pribadi sangat merekomendasikan film Oceans. Prenons soin de l'océan!

Selasa, 20 April 2010

I LOVE US


<"This is not a love story. This is a story about love.">

(500) Days of Summer adalah film drama... err what I suppose to call it, a romantic-but-tragic-with-alittlebit-comedy-drama? Sebuah kisah cinta dari seorang pemuda bernama Tom Hansen dan seorang gadis, Summer Finn. Awalnya mungkin terdengar klise, Tom merasakan sebuah chemistry saat pertama kali bertemu Summer. Kepercayaannya terhadap nilai-nilai seperti cinta sejati, takdir, keajaiban cinta dan puisi-puisi cinta, membuat Tom merasakan bahwa Summer adalah jawaban dari semua pencarian hatinya selama ini. Summer adalah kepingan puzzle terakhir yang melengkapi semua rangkaian mozaik indah di dalam hati Tom.

Tom memberikan sinyal-sinyal ketertarikan kepada Summer dan gadis itu tidak menolaknya, meskipun pada beberapa detail, terlihat isyarat yang nyaris tersamar bahwa Summer tidak menerima Tom sepenuhnya. Who cares? Mereka berdua menjalani hari demi hari seperti pasangan normal lainnya di seluruh dunia; menonton bioskop bersama, makan bersama, bercanda penuh keakraban, saling bertukar pikiran, berdansa, bahkan berciuman mesra dan tidur bersama. Tom merasakan semuanya berjalan sempurna namun ia tidak pernah mendengar sekalipun ucapan cinta dari Summer.

Saat Tom bergumul di dalam kepalanya sendiri dan meminta saran dari sahabat-sahabatnya, ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Summer, sedang ke arah manakah hubungan kita berjalan saat ini? Summer tidak memberikan jawaban yang jelas. Ia hanya menjawab, "Well, I am happy. Are you happy?" Tom hanya tersenyum memaksakan diri seolah semuanya memang berjalan baik-baik saja.

Hingga memasuki hari ke 400, hubungan Tom dan Summer mulai renggang. Tom tetap berusaha melihat Summer dengan tatapan mata yang berbinar seperti di hari pertama ia memandangnya. Tetapi Summer mulai memberi jarak di antara mereka berdua. Hingga akhirnya setelah cukup lama tidak bertemu, Summer mengundang Tom ke pesta pribadinya di sebuah apartemen. Tom datang dengan setelan pakaian paling rapi, belahan rambut paling keren, dan membawa hadiah buku kesukaan Summer. Di sinilah, Marc Webb sebagai sutradara membuat ilustrasi scene yang sangat menyentuh dalam ironi. Marc membuat layar televisi Anda terpisah menjadi dua, antara ekspektasi di dalam kepala Tom dan realita yang terjadi.

Di dalam scene ekspektasi, semuanya mengalir manis dan indah. Summer membuka pintu, menciumnya lembut dan mengajaknya masuk. Saat ia membuka hadiah dari Tom, Summer kembali menciumnya dengan senang. Di sana mereka berdua terlibat pembicaraan akrab sepanjang waktu, tidak terpengaruh para tamu lainnya, dan berdiri berdampingan di balkon sambil memegang segelas sampanye dan menatap langit senja. Sedangkan di scene realita, Summer membuka pintu dan memeluknya sekilas. Saat membuka hadiah dari Tom, ia hanya menyentuhkan tangan di bahu Tom sebagai tanda simpati. Tom terlibat pembicaraan basa-basi dengan teman-teman Summer dan menjelang sore, Tom sendirian menenggak sebotol sampanye di balkon. Ia menunggu Summer selesai dengan semua teman-temannya. Sayang semua penantian Tom menjadi tercerai-berai saat ia melihat Summer dengan ekspresi bahagia memamerkan sebuah cincin yang melingkar di jarinya kepada seorang temannya.

Tom merasakan dunia yang ia pijak runtuh seketika. Ia keluar dari apartemen Summer tanpa merasa perlu pamit kepadanya. Dari sana, ia merasa frustasi dan tidak bisa mengerti bagaimana ini semua bisa terjadi. Sampai akhirnya suatu saat Summer berhasil menjelaskan semuanya kepada Tom mengapa itu semua harus terjadi. Summer pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi pacar seseorang. Ia tidak percaya akan cinta. Ia meyakini bahwa pernikahan hanyalah awal dari sebuah perceraian, seperti halnya pernikahan kedua orangtuanya. Tetapi sekarang, Summer telah menikahi seorang pria dan pria itu bukanlah Tom.

But the best part is not yet to come, tepat di hari ke 500, melalui sebuah peristiwa kebetulan yang sempurna, Tom menemukan sesosok gadis lain. Sejak itu hari-hari milik Tom kembali di-reset menjadi hari ke 1 bersama seorang gadis cantik bernama Autumn. Tom kini mempercayai bahwa tidak ada yang namanya keajaiban cinta sejati atau takdir. Semua hanyalah kebetulan semata.

Ini adalah film yang memukau, menurut saya. Sangat jarang melihat film bertema cinta yang dilihat dari sudut pandang pelaku seorang pria. Film ini memberikan pesan bahwa sesungguhnya perempuan itu tidak selalu lemah dalam sebuah hubungan cinta. Seringkali justru perempuanlah yang memegang kendali sebuah hubungan. Pria yang sedang jatuh cinta akan dibutakan oleh serbuan hormon testosteron yang menyala-nyala di dalam dirinya. Sebaliknya, wanita mampu merasakan kapan cinta itu seharusnya tidak mereka miliki. Dalam film di atas, Summer secara gampang tidak pernah benar-benar merasa yakin terhadap Tom, meskipun Tom Hansen merasa sudah memberikan segalanya yang terbaik. Sampai entah bagaimana Summer berjumpa dengan seorang pria lain yang mampu memberi keyakinan itu kepada Summer Finn.

Tetapi kabar baiknya adalah, there's still a plenty of fish in the sea. Keep your heart open hence the sunshine could shine in. Ada kata-kata bijak yang mengatakan, saat sebuah pintu menutup, pintu yang lain akan terbuka. Kadang-kadang kita terlalu terfokus pada pintu yang menutup itu sehingga tidak memperhatikan pintu lain yang membuka untuk kita. Broken heart is hard but life goes on. They who reject you, protect you from someone who doesn't want you and leaves room for someone who does. You just haven't met your someone special yet!

Dedicated to all men who ever broken their hearts.

Jumat, 18 Desember 2009

2001: Space Odyssey (Beyond Hope, Expectation & Imagination)


Minggu kemarin, dengan sangat kebetulan saya melihat DVD film ini terpajang manis di deretan rak film-film yang dijual Gramedia. Spontan saya merasakan hasrat yang menggelora untuk membeli film ini, mengingat reputasinya sebagai film klasik science fiction yang sangat legendaris. Namun melihat label harganya senilai Rp 129 ribu, membuat saya agak ragu-ragu dan hanya membolak-balik kemasan DVD itu, berharap menemukan alasan yang sangat bagus untuk tetap membelinya.

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan tindakan yang paling disukai oleh seluruh produsen di seluruh dunia, impulse buying! Saya berpikiran, "Tak ada salahnya sesekali menikmati sebuah film berkualitas yang cukup langka dengan harga dan kualitas sepadan." Apalagi DVD ini juga menyertakan 1 disc lagi berupa feature edition yang memang ditujukan bagi para kolektor. Cukup menyenangkan pula saat membayarnya di kasir, ternyata saya diberitahu bahwa Warner Bros sedang mengadakan promo mengizinkan saya memilih sebuah film DVD lagi dengan harga di bawah Rp 129 ribu :-)

Film "2001: Space Odyssey" ini disutradarai dan diproduseri oleh Stanley Kubrick ini diangkat dari novel karya Arthur C. Clarke. And guess what, film ini dibuat di tahun 1968! Adegan pembuka di film ini sudah jelas bukan merupakan adegan pembuka yang biasa kita saksikan di film-film Hollywood yang penuh aksi. Bahkan kenyentrikan film-film Quentin Tarantino pun terasa menguap cepat bila dibandingkan dengan film ini. Bayangkan saja, film ini dibuka dengan scene kehidupan primata-primata prasejarah yang kelak menjadi cikal bakal manusia. Stanley Kubrick dengan jenius mengisahkan kehidupan mereka yang primitif, liar, sekaligus rapuh. Kera-kera purba ini harus bertahan hidup di alam yang keras, bersaing dengan tapir untuk memakan tumbuhan dan lumut, serta masih harus menghadapi serangan tiba-tiba macan tutul. Seakan masih kurang, mereka juga harus bersaing dengan kelompok kera lain untuk memperebutkan sumber air.

Jadi bayangkan saja bahwa sepanjang adegan pembuka, tidak ada dialog, narasi, atau teks sama sekali (kecuali jeritan-jeritan kera purba dan sekali raungan macan tutul). Tetapi buat saya pribadi, visualisasi adegan itu tergambar sangat jelas dan bahkan lebih kuat dari sekadar kata-kata biasa. Saat malam tiba, kera-kera primitif ini berusaha tidur di sebuah bukit karang dan mereka merasa sangat gelisah. Hingga keesokan harinya sangat bangun, kegelisahan mereka semalam seolah terwujud dalam sebuah batu misterius yang mendadak muncul di hadapan mereka. Batu hitam monolith berbentuk balok yang diam membisu itu membingungkan para kera yang berteriak-teriak ketakutan, sampai mereka akhirnya berani menyentuh batu tersebut untuk memuaskan rasa penasaran mereka.

Tiba-tiba dari sana, mendadak salah satu dari mereka seolah berubah menjadi spesies yang lebih cerdas! Seekor kera terlihat mengamati potongan tulang tapir dan mengambil sepotong tulang terbesar. Setelah dipegang-pegangnya dalam genggaman tangan, ia mulai memukul-mukulkannya dan menyadari bahwa tulang di tangannya bisa menjelma menjadi senjata yang menakutkan. Lewat tulang itulah, mereka bisa mengusir tapir, membunuhnya untuk mendapatkan protein dagingnya, dan yang paling penting lagi, mereka bisa mengusir kawanan kera lainnya dengan memukul mati pemimpin kera yang mencoba melawan dan menguasai kembali sumber air mereka sebelumnya. Secara jelas, Kubrick sedang mengkonstruksi ulang rekaan mengenai lompatan evolusi yang terjadi dari spesies kera primitif menjadi spesies kera setengah cerdas yang kelak menjadi manusia.

Saya amati, kostum yang dibuat untuk memerankan kera-kera primitif itu cukup bagus, apalagi bulu-bulunya terlihat sangat natural. Gesture yang diperagakan oleh aktor pemeran kera-kera itu pun cukup luwes, walaupun saya menilai topeng kera mereka masih sedikit aneh, ditambah mungkin waktu itu belum ada teknologi softlens mata yang unik, sehingga mata kera-kera itu masih terlihat seperti mata manusia. Yang unik, untuk mendapatkan peran anak-anak kera tersebut, mereka tidak mengambil anak kecil atau orang cebol, melainkan memutuskan untuk menggunakan anak simpanse! Pantas saja saya melihat gerakan-gerakan anak-anak kera dalam film ini sangat natural sekali.

Di film ini diperlihatkan, setelah kera-kera itu berhasil membunuh pemimpin rival dan menguasai sumber air kembali, salah satu dari mereka berteriak bangga sambil melemparkan tulang ke langit. Di sinilah, Kubrick lagi-lagi memperlihatkan sisi eksentriknya, saat mendadak mengganti scene tulang yang terlontar ke langit itu menjadi scene sebuah satelit yang melintasi luar angkasa! Bayangkan sebuah kegagapan yang kontras antara zaman prasejarah dimana manusia masih berupa gorila berbulu dengan adegan zaman luar angkasa! Berikutnya, film ini akan menceritakan mengenai abad penjelajahan antariksa manusia di tahun 2001.

Menariknya, sepanjang film, Stanley Kubrick dengan sangat luar biasa memberikan berbagai deskripsi yang detail mengenai berbagai ramalan teknologi masa depan menurut interpretasinya. Ada pesawat-pesawat antariksa, stasiun luar angkasa, pendirian pangkalan antariksa di bulan, keadaan tanpa bobot di dalam pesawat antariksa, seragam para astronot, bahkan sampai menu makanan instan para astronot. Sekadar informasi, film ini dibuat bahkan sebelum Neil Armstrong mendarat di bulan pada tahun 1969! Di film ini juga digambarkan mengenai teknologi telepon masa depan berupa videophone, serta teknologi Artificial Intelligence. Film Kubrick inilah yang kelak menginspirasi George Lucas menciptakan Star Wars yang legendaris tersebut. Bahkan menurut saya, film ini lebih akurat daripada film-film antariksa Hollywood lainnya karena tidak ada suara yang muncul saat adegan-adegan di luar angkasa yang memang kedap suara akibat tidak adanya udara sebagai penghantar.

Emosi yang kuat bagi saya, ada di akhir bagian dari film. Dikisahkan bahwa saat itu, manusia berencana untuk mendarat di Planet Jupiter. Untuk itu, mereka meluncurkan sebuah roket yang dihuni oleh beberapa astronot yang dibuat dalam kondisi hibernasi dan semuanya dikendalikan oleh sebuah super-computer paling cerdas yang pernah dibuat manusia, HAL 9000 Series. (Konon nama HAL diambil dari nama "IBM" yang digeser satu huruf). Masalah mulai timbul saat HAL mulai mengambil keputusan untuk melenyapkan para astronot itu satu persatu karena menganggap mereka menghalangi misi. Sementara para astronot itu berpendapat bahwa ada yang tidak beres dengan mesin ini dan langkah paling aman adalah menonaktifkannya sementara sampai situasi lebih lanjut. Sejujurnya, saya merasakan bahwa film "Eagle Eye" yang dibintangi Shia LaBeouf dan diproduksi tahun 2008 ini sangat mirip dengan salah satu bagian dari film "2001: Space Odyssey" ini. Betapa tidak, bayangkan saja sebuah super-computer yang maha cerdas, bisa berpikir, belajar dari kesalahan-kesalahannya, dan mempunyai akses kendali ke mana pun, dan ia melawan manusia. A ghost in the machine! Kemiripan lainnya adalah super-computer ini sama-sama menggunakan kemampuannya membaca bibir untuk menganalisis pembicaraan saat sambungan audio dimatikan.

Pada akhirnya, melalui semangat juang yang tidak bisa diperkirakan oleh sebuah komputer, seorang astronot bernama Dave Bowman berhasil mengalahkan HAL dengan mencabut prosesor-prosesor untuk membunuhnya pelan-pelan. Disinilah HAL serasa seperti mahluk yang sedang terluka. Melalui suaranya yang diprogram untuk terdengar lembut dan tenang, HAL berusaha membujuk Dave untuk membatalkan tindakannya tersebut, bahkan termasuk bernyanyi! Setelah pesawat dalam kondisi penguasaan manual penuh, Dave memutuskan untuk mengendarai space aircraft yang lebih kecil untuk mendarat di Jupiter.

Nah, di scene inilah, kegilaan Stanley Kubrick semakin menjadi-jadi. Saat mengorbit di dekat Jupiter, Dave tiba-tiba mengalami sebuah fenomena astrologi yang sangat luar biasa dan terlihat sebuah batu monolith melintas di hadapannya. Entah itu sebuah efek supernova atau halusinasi belaka, yang pasti sepanjang adegan, Dave mengalami halusinasi optik yang sangat kompleks, sampai saya tidak mampu mendeskripsikan dengan kata-kata disini. Setelah itu, semuanya gelap dan tenang...

Kemudian scene berganti menjadi sebuah ruangan bernuansa klasik yang mewah, dimana space aircraft yang ditumpangi Dave sudah ada di dalam ruangan itu. Dave terbujur tegang di dalam space aircraft dan melalui kaca depan, ia melihat sosok manusia berpakaian astronot seperti dirinya. Wajah dalam helm astronot itu terlihat dan nyata itu adalah wajah Dave sendiri. Tetapi wajah itu terlihat lebih tua 20 tahun, dan mendadak ruangan itu hanya berisi Dave seorang, sedangkan space aircraft yang berisi Dave yang lebih muda di dalamnya, menghilang.

Setelah itu dengan pandangan mata kosong, Dave mengamati pantulan wajahnya di cermin, lalu melangkah pergi. Ia tertarik dengan bunyi denting peralatan makan yang terdengar dari sebuah ruangan yang pintunya terbuka sedikit. Dave berhenti dan melongok, terlihat punggung sosok seorang pria bermantel beludru yang sedang makan. Pria yang sedang makan itu merasa ada yang mengawasinya dan ia menoleh. Dave di balik pintu menghilang lalu pria itu kembali meneruskan makannya. Tampak wajah pria itu adalah Dave sendiri yang mungkin berusia sekitar 70 tahun. Tanpa sengaja ia menyenggol segelas air di sampingnya sehingga pecah berantakan di lantai. Dave tua memandanginya sejenak lalu ia mendengar suara berdeham serak dari atas ranjang.

Kini scene memunculkan seorang pria botak tua lemah tak berdaya sendirian, terbaring di atas tempat tidur. Seperti Dave-Dave lainnya, pria tua yang sedang makan itu turut lenyap. Mendadak di hadapan Dave yang renta, muncul sesosok batu monolith yang misterius itu! Batu yang pernah membantu evolusi kera-kera purba, berjuta-juta tahun yang lalu dan saya hanya bisa menduga mungkin batu itu hasil peradaban lain yang lebih cerdas atau interpretasi Kubrick terhadap eksistensi Tuhan. Setelah itu, scene berganti dengan Dave yang masih berupa janin dan mengorbit mendekati Bumi...

Jelas bukan sebuah ending film yang disukai banyak orang. Saya sendiri bahkan menganggap visualisasi itu hanyalah interpretasi yang konotatif dari seorang Stanley Kubrick untuk menggambarkan harapan manusia akan keabadian dan kerinduan Dave untuk kembali pulang ke rumahnya di Bumi. Dave sendiri saya duga sudah lama tewas saat space aircraft-nya mungkin gagal mendarat di Jupiter atau terkena efek ledakan supernova.

Meskipun film "2001: Space Odyssey" ini dianggap mewakili prediksi masa depan yang cukup akurat, banyak ramalan-ramalannya terbukti meleset, misalnya:

1. Sekarang sudah akhir tahun 2009 dan manusia masih belum berhasil mengadakan perjalanan antariksa (bahkan mendarat di bulan untuk kedua kalinya pun belum pernah dilakukan).

2. Konsep videophone sebagai telepon masa depan sampai sekarang tidak pernah terealisasi, kecuali menjadi webcam.

3. Saat itu mereka belum meramalkan teknologi touchscreen dan layar datar. Terlihat waktu Dave bermain catur dengan HAL, ia menggunakan suara untuk menggerakkan pion-pion caturnya di layar komputer. Padahal kalau sekarang, tentu lebih masuk akal bila Dave menggerakkan pion catur lewat jarinya di layar touchscreen. Monitor-monitor yang ada di film ini pun kebanyakan masih cembung, seperti monitor TV di tahun 1970-an.

4. Visualisasi Planet Bumi di film ini menurut saya terlihat sedikit janggal, karena terlalu didominasi warna biru. Padahal kalau dilihat dari foto-foto di buku atau film-film Hollywood yang lebih modern, Bumi juga mempunyai warna coklat (warna daratan).

Overall, film ini sangat direkomendasikan! Film fiksi ilmiah terbaik di zamannya dan saya sangat berharap suatu saat film ini akan dibuat remake-nya :-)