Jumat, 09 Oktober 2009

Macao: Asia Rasa Portugal




Akhirnya kami berangkat menaiki bus menuju The China Ferry Terminal untuk menaiki kapal ferry yang akan menyeberang menuju Macao. Apa yang disebut "terminal ferry" itu ternyata di mata saya lebih tampak seperti bangunan mall kecil yang berpenyejuk udara, dikelilingi pertokoan, dan dilengkapi eskalator. Di sana ramai sekali, banyak terlihat orang-orang yang mengantri, dan beberapa dari mereka saya lihat mengeluarkan paspor Jepang yang bersampul merah.

Sewaktu berbaris akan memasuki kapal ferry, terjadi insiden kecil, seorang wanita di barisan depan tiba-tiba berteriak dan menunjuk-nunjuk laut, si petugas sempat menoleh sejenak lalu dengan tegas kembali menyuruh wanita tersebut melanjutkan langkahnya. Belakangan saya baru tahu kalau dompetnya jatuh tercebur ke laut, apes sekali! Saat memasuki kapal, ada petugas wanita yang berpakaian rapi ala pramugari menyambut dan menyuruh setiap penumpang untuk meletakkan barang bawaan yang berat seperti koper di bagian depan. Tentu saja saya sempat merasa heran dengan aturan itu karena kalau di Indonesia, bisa berisiko dicuri orang. Tetapi karena semua orang melakukannya, akhirnya saya juga meletakkan tas di bagian depan kapal yang memang dikhususkan untuk meletakkan barang-barang, sementara para penumpang duduk di kursi masing-masing.

Perjalanan dari Hong Kong menuju Macao memakan waktu sekitar 2 jam lebih dan saat itu kebetulan kondisi ombak tidak terlalu tenang sehingga jujur saja saya dan sebagian besar penumpang saat itu merasakan sedikit mual. Untuk meredakan efek mual dan pusing, akhirnya saya memutuskan untuk tidur saja.

Akhirnya kapal ferry telah tiba di Macao, kami segera tidak sabar untuk menginjak daratan. Di sana lagi-lagi kami harus mengisi data-data dan melewati pemeriksaan imigrasi. Sekalipun Macao saat ini sudah menjadi bagian dari China, namun sama seperti Hong Kong, di Macao juga diberlakukan Special Administrative Region yang mengizinkan Hong Kong dan Macao mempunyai otoritas mengatur wilayahnya sendiri sepanjang masih tunduk terhadap pemerintah pusat di Beijing. Sebelum bergabung dengan China di tahun 1999, Macao merupakan daerah kekuasaan Portugal sekaligus koloni Eropa di Asia yang terakhir. Karena itu di Macao, Anda akan mudah sekali menemukan jejak-jejak Portugis di setiap sudut kota. Dalam bahasa Mandarin, "Macao" disebut dengan "Aomen" yang artinya adalah "pintu perdagangan".

Apa yang pertama saya rasakan saat pertama kali tiba di Macao? Panas luar biasa! Posisi Macao yang secara geografis lebih selatan dari Hong Kong benar-benar mirip dengan cuaca Indonesia, yaitu 29-30 derajat Celcius. Di sana lagi-lagi kami harus melalui pemeriksaan imigrasi Macao. Sekeluarnya dari pemeriksaan imigrasi, saya melihat sebuah becak! Ya, ternyata Macao masih mempunyai becak tradisional unik yang disebut trishaw. Becak ini berbeda dengan di Indonesia karena pengemudinya mengayuh sepeda di bagian depan. Namun herannya di jalanan, saya tidak melihat trishaw yang berkeliaran.

Karena merasa capek akibat perjalanan yang kurang mulus di kapal ferry, kami cepat-cepat ingin sampai ke hotel yang sudah dipesankan oleh kakak saya. Namun entah bagaimana, Oom saya kesusahan mencari transportasi umum dengan jurusan yang ke daerah tersebut. Alhasil setelah bertanya sana-sini, kami menumpang sebuah minibus hotel lain yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan hotel kami, hahaha... Sebenarnya minibus itu disediakan secara gratis untuk mengantar calon tamu-tamu hotel yang akan menginap dari terminal ferry :-P Di tengah-tengah perjalanan, saya sempat terpukau menyaksikan bentuk bangunan yang unik di kejauhan. Samar-samar saya membaca gedung itu bertuliskan, "Grand Lisboa".

Hotel yang kami tempati adalah hotel berbintang satu yang terletak di daerah Rua de Madeira, yaitu East Asia Hotel. Bangunannya terlihat tua namun kamarnya bersih dan cukup nyaman. Karena saat itu sudah sekitar jam 2 siang, kami memutuskan untuk mencari tempat makan. Nah, semula kami merasa bingung mengapa banyak tempat makan yang tutup atau tidak ada orang sama sekali. Ternyata merupakan kebiasaan lama di sana bahwa pada jam-jam segitu, tempat-tempat makan akan tutup sejenak selama 2-3 jam.

Suasana di Macao menarik sekali, menyusuri jalan-jalan sempit yang lebih tenang dibanding Hong Kong, dengan deretan toko-toko lama khas Pecinan yang unik karena memakai nama Mandarin dan Portugis (saya sering menemukan toko "pastelaria" yang ternyata adalah toko kue). Harga-harga makanan disini pun jelas lebih murah dan terasa enak daripada di Hong Kong. Rata-rata hampir semua tulisan di Macao ditulis dengan huruf Mandarin dan Portugis. Baru belakangan saja, ditambahi dengan keterangan dalam bahasa Inggris.

Menjelang senja, kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke tengah kota. Hawanya terasa makin sejuk dengan angin sepoi-sepoi. Saya mengamati, trotoar di Macao sungguh eksotik, tidak seperti trotoar biasa yang hanya terbuat dari batu-batu, namun trotoar di Macao terbuat dari kepingan mozaik batu-batu kecil! Pada jarak tertentu, mozaik ini akan membentuk gambar dan melukiskan sesuatu yang berhubungan dengan laut, seperti: udang, cumi-cumi, ikan paus, kapal, dsb. Benar-benar a piece of art! Yang aneh, di jalan-jalan tertentu, tempat menyeberang bagi pejalan kaki tidak dicat seperti zebra-cross, melainkan hanya dua garis yang melintang saja, sehingga sempat membuat saya yang mau menyeberang menjadi tidak yakin ini zebra-cross atau bukan. Saat berjalan-jalan, terlihat pula banyak bangunan-bangunan bergaya kolonial khas Eropa di kanan-kiri yang terawat baik. Terdapat pula toilet-toilet umum dengan nama Portugis, sanitario publico. Sayangnya saya belum sempat melongok ke dalamnya.

Akhirnya saya sampai di sebuah tempat yang ramai, gemerlap, dan lebar (tidak seperti jalanan sempit yang saya lalui sebelumnya). Di daerah itu, menjulang sebuah gedung tinggi yang gemerlap dan ternyata gedung itulah yang sempat membuat saya terpukau sebelumnya dari kejauhan, "Grand Lisboa". Di depannya persis, juga ada sebuah gedung yang dipenuhi gemerlap lampu (namun kalah tinggi) dengan nama "Casino Lisboa". Ternyata kedua gedung tersebut adalah bangunan kasino yang paling terkenal di Macao! Ya, Macao memang dikenal sebagai "Las Vegas-nya Asia". Ayah saya memberitahu bahwa pada zaman dulu, "Casino Lisboa" merupakan satu-satunya kasino paling terkenal di seluruh Macao. Belakangan baru dibangun gedung kasino yang lebih elit lagi tepat di depan Casino Lisboa, yaitu Grand Lisboa tersebut. Di seberang gedung-gedung, terlihat seperti taman kota dengan desain kontemporer yang dikelilingi piramida-piramida kaca (mengingatkan saya pada piramida kaca Louvre yang terkenal itu).

Ternyata Grand Lisboa bebas dimasuki oleh pengunjung, seiring makin derasnya kunjungan turis ke Macao. Memasuki ke dalam, sungguh luar biasa mewahnya interior gedung kasino ini! Ada beberapa pajangan yang rata-rata sangat mewah, seperti gading gajah yang diukir dengan sangat mendetail, ukiran kayu dengan dewa-dewi yang juga sangat mendetail, perahu naga dari emas, dsb. Di lantai dua barulah para pengunjung bisa mencoba bermain poker atau mesin judi pachinko. Kebetulan saat saya di sana, terdapat pertunjukan kabaret gadis-gadis berwajah bule menari-nari ala tarian Flamenco yang doyan sekali mengangkat-angkat rok mereka. Saya mengamati sekeliling, terpampang pula spanduk raksasa yang menuliskan "Adult live show: AV Japan Show" di lantai atas (saya tidak tahu gedung Grand Lisboa sampai berapa tingkat, yang pasti para pengunjung hanya diizinkan naik sampai ke lantai 3 saja).

Tidak terasa, hari sudah menjelang malam dan karena kami berencana hanya tinggal 2 hari saja di Macao, saya bersikeras untuk mampir ke ikon Macao yang paling populer, Ruins of St. Paul's! Akhirnya Oom saya menanyakan arah ke Katedral St. Paul kepada petugas di Grand Lisboa. Wah, ternyata dia menjawab dengan cukup antusias, bahkan terkesan bangga menjelaskan arah-arah yang harus diambil menuju Katedral St. Paul dengan bahasa Kong Hu-nya. Cukup mengejutkan mengingat di China, orang-orang biasanya berkata-kata dengan nada ketus dan ekspresi jutek yang terkesan sangat kasar bagi orang Indonesia.

Sepulang dari Grand Lisboa, ternyata langit gerimis rintik-rintik. Untungnya berjalan kaki di trotoar Macao sangat nyaman dan aman. Selain disisi yang menghadap ke jalan diberi pagar (sehingga tidak ada kendaraan yang bisa nyelonong ke trotoar sekaligus menghalangi pejalan kaki menyeberang jalan sembarangan), trotoar di sana selalu menyambung dengan bangunan di sebelahnya dan bangunan tersebut pasti beratap, sehingga pejalan kaki yang melintasi trotoar tidak akan basah kehujanan. Bandingkan dengan trotoar-trotoar di Indonesia, sudah sempit, penuh lubang, basah kalau hujan, masih diserobot parkir liar dan warung-warung PKL pula.

Kami menyusuri jalan-jalan sempit yang berakhir di Senado Square. Benar-benar merupakan perpaduan unik, bayangkan saja, di jalanan ala citywalk dengan jalan berbatu-batu kerikil khas Eropa, di kanan-kiri Anda bisa menemukan pertokoan modern seperti Giordano yang bersebelahan dengan Starbucks dan berjarak beberapa meter dari gedung-gedung kuno (terdapat museum Largo de S. Domingos - Treasure of Sacred Art yang bangunannya mencolok karena terlihat kuno dan dicat kuning). Akhirnya saya sampai di jalanan menuju Ruins of St. Paul's. Di kejauhan sana, terlihat Katedral St. Paul yang berdiri gagah. Sayang karena hari sudah malam (sudah terlihat sepi) dan ayah saya sudah capek, akhirnya saya hanya bisa memandangi dari kejauhan dan berfoto-foto saja. Untuk mendekati Katedral tersebut, kita harus menaiki anak tangga karena Katedral St. Paul terletak di atas dataran yang lebih tinggi. Di dekat saya berfoto-foto, terdapat patung yang menarik, yaitu patung wanita yang memberikan sesuatu (seperti bunga) kepada pria dan di atas patung wanita tersebut, ada patung burung bangau, meskipun saya belum mendapatkan penjelasan mengenai konsep dan maksud patung ini dibuat.

Reruntuhan Katedral St. Paul sebenarnya merupakan Katedral Katolik Roma yang dibangun dari tahun 1582-1602 dan mengalami kebakaran hebat di tahun 1835 sehingga hanya menyisakan tembok bagian depan katedral saja (facade). Dalam bahasa Mandarin, Ruins of St. Paul's ini disebut "Ta Ba Shan" yang artinya kalau saya duga adalah "Gunung Paul Besar" :-)

Keesokan paginya, kami bermaksud sarapan di daerah Senado Square kemarin. Di sana saya merasa cukup heran melihat para manula berbaris antri untuk mendapatkan koran. Saya menduga para manula di Macao kalau pagi dijatah koran gratis atau mungkin bisa mendapatkan hanya dengan setengah harga sehingga rela antri panjang seperti itu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi, and guess what? 90% pertokoan di sana masih tutup dan orang-orang seolah terlihat masih menikmati segarnya pagi. Sangat kontras sekali dengan Jakarta yang jam 6 pagi saja, jalanan sudah riuh ramai, penuh sesak dengan kendaraan yang berangkat kerja disertai perang klakson.

Menjelang siang, kami segera check-out dari hotel dan menaiki bus yang akan berangkat menuju Zhuhai, perbatasan antara Macao dengan Mainland China. Oya, saat di Macao, saya masih menjumpai beberapa perempuan dengan wajah Melayu yang berlogat Jawa medok. Ternyata Macao menjadi salah satu tempat destinasi favorit bagi para TKW. Overall, Macao memang kota yang menarik, santai, namun lama-lama membosankan...

Rabu, 30 September 2009

Journey to The East part 5 (HK-Macao-Zhuhai-Shenzhen)


Di liburan Lebaran tahun ini, kembali saya berkesempatan mengunjungi tempat-tempat di Asia Timur. Bila tahun lalu, saya mengunjungi Hong Kong dan Shenzhen sendirian, kali ini saya berpergian ke empat tempat sekaligus bersama keluarga dari Hong Kong-Macao-Zhuhai-Shenzhen.

Kami sekeluarga berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, pada hari Sabtu subuh tanggal 19 September 2009, mengejar pesawat Cathay Pacific yang berangkat pada pukul setengah 8 pagi. Sesampainya di airport sekitar jam setengah 6 pagi, ternyata di bandara sudah ramai dengan orang-orang. Rupanya banyak pula orang-orang Indonesia yang ingin memanfaatkan liburan panjang Lebaran dengan berwisata ke luar negeri.

Penerbangan dari Jakarta ke Hong Kong memakan waktu sekitar 4,5 jam. Jadi kami dijadwalkan akan tiba di Hong Kong pada siang hari. Pesawat yang saya naiki kali ini berukuran lebih besar dari pesawat yang saya naiki tahun lalu, China Airlines. Pelayanan yang diberikan juga relatif lebih mengesankan, dengan mempertimbangkan reputasi dan nama besar Cathay Pacific. Di dalam pesawat, para penumpang bisa menonton beberapa film pilihan dari video passanger, dan saya memilih untuk bernostalgia menikmati salah satu film kartun klasik dari Walt Disney, "The Jungle Book" :-)

Film animasi yang diadaptasi dari novel Rudyard Kipling ini sebenarnya sangat menarik dan filosofis. Mengisahkan sebuah usaha pencarian jati diri Mowgli yang dibesarkan di hutan India dalam asuhan Baloo, Si Beruang dan lindungan Bagheera, Sang Macan Kumbang. Ia berjuang melawan rasa takutnya saat menghadapi Shere Khan, Sang Harimau Bengal yang Lalim, dengan akal manusianya. Pada akhirnya ia tidak bisa mengingkari identitasnya sebagai manusia saat ia melihat seorang gadis cantik yang berjalan mengambil air di sungai.

Akhirnya sekitar jam 12 siang, pesawat yang kami tumpangi mendarat di Hong Kong International Airport. Saat turun, langsung terlihat beberapa petugas bermasker membagikan brosur-brosur mengenai bagaimana mencegah penyakit Flu Babi. Wabah Flu Babi atau yang disebut juga dengan Human Swine Influenza (H1N1) adalah penyakit yang jauh lebih mematikan dari pendahulunya, Flu Burung. Walaupun Hong Kong dikenal sebagai kawasan yang maju dan modern, tetapi reputasi Hong Kong di dunia kesehatan tidak begitu bagus. Di tahun 1997, wabah Flu Burung berawal dari Hong Kong dan menyebar ke seluruh dunia. Begitu pula virus Flu Babi juga sempat menjangkiti beberapa orang di Hong Kong, bahkan pernah menewaskan 3 anak-anak yang langsung mengakibatkan sebuah TK di Hong Kong diliburkan selama seminggu penuh. Untuk menunjukkan keseriusan itu, bahkan drinking fountain yang ada di bandara pun disegel lalu ditempel pengumuman bahwa penyegelan itu dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus Flu Babi.

Yang hebat, sebelum mencapai area pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi, penumpang diarahkan untuk menaiki sebuah kereta bermodel MRT kecil yang menurut pengumuman akan datang setiap 2 menit. Kereta ini dinamakan Automated People Movers yang bahkan tidak memerlukan seorang masinis! Saya ingat betul tahun lalu transportasi ini belum ada dan hanya dalam selang setahun, Hong Kong sudah berbenah secepat itu, sementara saya mengingat-ingat dalam setahun pula apa yang sudah dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Selepas dari pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi, kami sekeluarga dijemput oleh saudara ayah yang berdomisili di Hong Kong. Karena masih bulan September, cuaca di Hong Kong masih panas, dengan suhu rata-rata 28 derajat Celcius. Disana kami diajak menaiki double decker bus yang khusus berangkat dari airport menuju kawasan kota. Perjalanan menuju kawasan kota memakan waktu cukup lama karena bandara Hong Kong dibangun di pulau terpisah sehingga harus melewati Tsing Ma Bridge yang megah dan sekilas seperti Golden Gate di San Fransisco.

Hotel yang kami tuju terletak di Mong Kok, daerah Kowloon. Jangan membayangkan suasana hotel yang seperti di Indonesia, karena hotel ini ternyata terletak di daerah downtown, Argyle Street. Mengingat lahan di Hong Kong sudah begitu terbatas, maka hotel yang kami tempati ini sangat unik, mirip dengan flat apartment yang biasanya kita saksikan di film-film Hong Kong. Jadi di dinding pintu masuk, terdapat banyak kotak-kotak laci kecil dengan banyak nomor (belakangan saya baru tahu kalau ternyata itu adalah kotak pos. Jadi pengirim tinggal menyisipkan amplop surat ke dalam kotak pos sesuai nomor kamar). Di depannya ada seorang security yang menjaga pintu lift. Ternyata bangunan ini punya ketinggian sampai 16 lantai! Anehnya ternyata bangunan ini bukan sebuah hotel saja, tetapi ada beberapa hotel, mungkin mereka menyewa bangunan yang sama dalam jangka waktu panjang. Kamar yang saya tempati boleh dibilang cukup sempit meskipun terlihat bersih dan lengkap, yah memang beginilah tipikal rumah-rumah di Hong Kong, kata Oom saya (kecuali Anda adalah seorang konglomerat yang mampu tinggal di kondominium mewah).

Setelah selesai menaruh barang, kami diajak keluar untuk makan siang sembari menikmati Mong Kok. Secara umum, kondisi jalan di Hong Kong sempit-sempit, tidak selebar Jakarta, tapi sangat jarang macet (kecuali kalau rush hour). Pejalan kaki pun bebas melenggang di trotoar yang lebar dan nyaman. Bandingkan dengan di Indonesia, sudah trotoarnya sempit, tidak rata, kadang-kadang berlubang, masih dijajah oleh warung-warung atau rombong PKL dadakan. Belum lagi tiba-tiba motor bisa nyelonong jalan di atas trotoar atau bahkan dijadikan lahan parkir bagi mobil-mobil. Menyeberang jalan pun sangat aman di Hong Kong karena untuk menyeberang, disediakan lampu indikator yang akan menyala hijau dan terus membunyikan dering (untuk memberitahu tuna rungu yang akan menyeberang). Para pejalan kaki disana pun sangat tertib, kalau lampu indikator masih merah, mereka tidak akan menyeberang. Okelah, mungkin ada 1-2 orang yang tetap menerobos, namun untungnya pemakai kendaraan di jalan pun sangat menghormati pejalan kaki. Tidak ada sebuah kendaraan pun yang malah menambah kecepatan bila ada pejalan kaki yang ingin menyeberang. Saya bahkan nyaris tidak pernah mendengar suara klakson selama di Hong Kong.

Di pinggir-pinggir jalan, tampak ornamen-ornamen merah berhiaskan angka "60" besar-besar. Ternyata hiasan itu dipajang untuk kelak memperingati 60 tahun berdirinya Republik Rakyat China dari tahun 1949 pada tanggal 1 Oktober. Yang lucu, sepanjang perjalanan, saya sangat mudah menemukan beberapa wajah yang familiar, Indonesian look. Kalau saya perhatikan, ternyata mereka bercakap-cakap dengan bahasa Jawa Timuran yang medok. Ya, mereka memang adalah TKW pembantu rumah tangga yang bekerja di HK. Dandanan mereka macam-macam, mulai dari yang masih alim berjilbab, sporty mengenakan T-shirt, jeans, dan sepatu kets, hingga yang lebay, seperti memakai tank-top, hotpants, sepatu boot, rambut jabrik lepek ala Harajuku alay, rambut di-rebonding, dikeriting, disemir, hidung ditindik, but still they can't deny that their face is "njawani".

Kisah-kisah menarik mengenai HK akan ada di posting terakhir sebab saya sekeluarga memang baru menjelajahi HK di hari-hari terakhir. Kami memang singgah sebentar di HK pada 2 hari pertama untuk mempersiapkan diri mengunjungi Macao!

Sabtu, 20 Juni 2009

PRJ 2009: Panggung Humaniora Jakarta



Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau disebut pula Jakarta Fair merupakan acara pameran tahunan terbesar yang diadakan di Indonesia. Acara ini sendiri berlangsung hampir sebulan lamanya dengan berlokasi di Kemayoran. Meskipun sudah berlangsung sejak tahun 1968 dan diadakan rutin tiap tahunnya, PRJ masih terus menyedot animo puluhan ribu pengunjung tiap harinya, termasuk saya yang berkesempatan mampir melongok ke PRJ pada hari Jumat tanggal 19 Juni kemarin :-)

Ongkos parkir untuk mobil boleh dibilang cukup murah untuk ukuran Jakarta, Rp 10.000 selama seharian penuh. Sementara untuk membayar admission ticket, 1 orang dewasa dikenai Rp 20.000. Saya sengaja datang ke PRJ sebelum sore hari dengan pertimbangan suasana disana belum crowded, sehingga untuk parkir pun tidak akan susah. Pertama memasuki, masih belum terasa gregetnya, karena para pengunjung diharuskan memasuki sebuah area tertutup yang menyajikan dagangan-dagangan yang kurang menarik bagi saya, seperti obat krim oles wajah, minyak wangi, raket listrik, dan sebagainya. Tetapi saat sudah benar-benar memasuki area PRJ, woow! Ramai sekali suasana di dalamnya. Banyak sekali orang-orang (terutama anak muda) yang berlalu-lalang dan stan-stan menarik terpajang di kanan-kiri.

Saya menyempatkan diri untuk berkeliling, dari stan handphone, komputer, otomotif, makanan-minuman, hingga ke pakaian (malah ada display sebuah mal baru di Surabaya yang berlogo angka 8). Banyak sekali para SPG berpenampilan menarik yang menawarkan dagangannya di pinggir stan, dan sebagian besar dari mereka sangat agresif sekali merayu calon-calon konsumen ;-) Kalau saya amati, dari segi kostum, SPG Djarum yang paling "berani", dengan mengenakan sporty tanktop, celana pendek ketat, dan sepatu boot. Tetapi yang rata-rata berwajah menarik, justru kebanyakan para SPG handphone dan provider.

Yang paling unik justru ada di kalangan pengunjung, entah bagaimana saya melihat sendiri ada seorang pria yang jelas terlihat bule dengan seorang remaja cowok yang juga bule (mungkin anaknya), melenggang santai di PRJ. Si anak cowok tersebut mengenakan kostum Liverpool, nah kostum ayahnya ini yang kontroversial, sebuah seragam satpam! Jadi bayangkan saja seorang bule berusia 50 tahunan dengan perut buncit berpakaian satpam lengkap dengan topinya! Entah dari mana ia mendapat seragam satpam itu, dan saya berusaha mencari-cari alasan logis motivasi si bapak bule ini berpenampilan seperti itu di PRJ :-) Mereka berdua sempat melintasi beberapa anggota polisi yang sedang istirahat. Spontan para polisi tersebut juga terbengong-bengong dan tersenyum bingung. Bule "satpam" itu hanya menanggapi santai tatapan aneh para polisi dengan mengacungkan tanda jempol ke atas lalu mengucapkan beberapa kata yang tidak bisa saya dengar. Hmm... Kalau saya menjadi salah satu anggota polisi tersebut, mungkin saya akan menghentikan dan mulai menginterogasi mereka berdua. Saya rasa seorang aparat keamanan berhak melakukan itu pada orang-orang yang menimbulkan kecurigaan. But we all know, this is Indonesia, tentu saja para polisi itu memilih untuk diam saja sambil senyum-senyum aneh. Apa mungkin mereka takut kalau si bule ngajak ngomong bahasa Inggris, ya? :-D

Ada beberapa pakaian branded yang ikut meramaikan suasana di PRJ, yaitu Levi's, Bossini, Polo, Samuel & Kevin, Baleno, Hammer, dan Poshboy. Harga-harga yang dijual murah sekali, bayangkan saja T-shirt Baleno cuma seharga 50 ribuan saja... Tetapi jangan bersorak dulu, sebab tipikal barang-barang obralan, model yang ditawarkan terbatas dan saya menduga barang-barang tersebut memang stok lama yang tidak laku :-( Saya malah lebih tertarik membeli pakaian di stan clothing distro lokal, Threesecond. Di sini juga terjadi ajang diskon besar-besaran, bahkan ada pakaian-pakaian rejected yang cuma dijual Rp 30.000 saja! Kecacatan pakaian ini bervariasi mulai dari yang kotor sampai kancing hilang. Tetapi selain itu, kondisi pakaiannya masih layak dan modelnya juga masih keren, so why not take it? :-P

Ada lagi keunikan di stan komersial PRJ ini, yaitu stan obat pria dewasa yang diberi merek "Sparta X". Menjadi unik karena brand equity yang ditawarkan sungguh-sungguh meniru habis film 300 (Leonidas). Bahkan ada SPB yang berdandan bak prajurit Sparta, lengkap dengan topi, tameng, tombak, dan jubah merahnya :-) Di tengah-tengah lapangan, didirikan sebuah panggung raksasa yang sepertinya akan makin gemerlap di malam hari. Kerispatih sedang menyanyikan beberapa lagu, tetapi saya sedang tidak berselera menikmati musik mereka, sehingga saya lebih memilih menelusuri stan-stan yang lain.

Tidak hanya pameran bisnis komersial saja, PRJ juga diramaikan dengan pameran-pameran perwakilan dari pemerintah daerah beragam provinsi. Jadi kita bisa melihat banyak batik dan kerajinan-kerajinan tangan lainnya dari Yogyakarta, Cirebon, Pekalongan (my hometown!), Tegal, Semarang, Nusa Tenggara Timur, dsb. Tentu khusus Pemda DKI Jakarta sebagai host, mendapat prioritas sendiri di satu hall terpisah. Di sini saya melihat Pemda DKI mencoba memamerkan visi dan misi Jakarta sebagai "kota besar kelas dunia". Saya juga melihat ada stan-stan perwakilan dari Depnaker, Depkominfo, dan BUMN (PLN, BRI, BNI). Yang paling keren dan berkesan di sini bagi saya, adalah booth mengenai MRT!

Mass Rapid Transit (MRT) merupakan sarana transportasi massal yang sudah lazim di kota-kota besar di luar negeri. Bentuk dan cara kerjanya sebenarnya sama dengan kereta api konvensional namun beroperasi di bawah tanah (subway train). Beberapa pengamat mengatakan bahwa keberadaan MRT akan berpengaruh besar untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang semakin menambah macet Jakarta. Japan International Cooperation Agency memprediksi bila tidak ada upaya untuk mengurangi kemacetan yang ada, maka pada tahun 2014 mendatang Jakarta akan macet total alias tidak bisa bergerak sama sekali! Bayangkan saja laju pertumbuhan kendaraan (mobil & motor) mencapai 11% sementara laju penambahan jalan nyaris kurang dari 1% per tahun...

Mempertimbangkan semua itu, Pemda DKI Jakarta bertekad untuk membangun MRT sebagai salah satu solusi mengurangi kemacetan ibukota. Nah, di PRJ sinilah, visi masa depan tersebut divisualisasikan dan disosialisasikan dengan baik. Mereka membangun booth khusus yang didesain mirip dengan suasana stasiun MRT sesungguhnya! Ada prototype kereta MRT yang bisa kita naiki, duduki, lengkap dengan dua monitor TV di dalamnya. Bahkan ada neon signboard yang menunjukkan rute-rute MRT mulai dari Lebak Bulus sampai Dukuh Atas. Saya merasa seperti berada di Jakarta versi futuristik. Jadi kalau foto-foto di booth ini serasa di luar negeri, deh :-) Seakan melengkapi, ada pula dua SPG berpenampilan menarik yang tersenyum ramah menyambut para pengunjung (saya jadi membayangkan andai bila kelak MRT jadi terwujud, akan ada petugas-petugas perempuan seperti ini yang siap membantu penumpang).

Ekspektasi tinggi patut dilayangkan dengan visi-visi MRT di atas. Namun kita semua harus menyadari bahwa pembangunan MRT akan memakan biaya dan lahan yang sangat besar. Tidak hanya itu, pemeliharaannya pun saya kira juga tidak akan mudah. Saya jadi takut membayangkan bahwa visi-visi yang indah di atas tidak akan terwujud bila sudah berada di lapangan. Bayangkan saja, mempunyai sebuah subway train, berarti Pemda DKI harus membangun terowongan berkilo-kilometer. Bisakah itu dilakukan mengingat untuk membangun tiang-tiang monorel saja sampai sekarang masih terbengkalai? Kalau terowongan sepanjang itu terbengkalai, saya rasa akan menjadi wisma-wisma baru gelandangan seluruh Jakarta. Andaipun sudah terbangun MRT dengan megah, bisakah kita mengurusnya dengan baik, sementara mengurus busway, kopaja, dan angkot, saja sudah amburadul? Sudah tinggikah kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga dan memelihara MRT yang canggih dan mahal ini, menilik berita bahwa Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) yang baru dibangun seminggu saja sudah dicuri beberapa mur dan lampu penerangannya?

Satu lagi, Pemda DKI Jakarta harus memahami pula consumer insight mengapa mereka enggan menggunakan sarana transportasi umum. Saya pribadi akan tetap menggunakan kendaraan pribadi walaupun MRT/monorel yang nyaman dan aman kelak terwujud. Mengapa? Sebab sistem transportasi yang tidak terintergrasi secara menyeluruh bagi saya akan terasa mubazir. Saya malas sekali membayangkan kalau untuk mencapai stasiun MRT/monorel, saya harus berjibaku, berdesak-desakan mandi sauna menaiki angkot-angkot lusuh yang doyan ngetem sembarangan tersebut, HELL NO!!! Jangan pula kelak seperti busway yang makin lama juga makin tidak jelas dengan jadwal kedatangan yang molor, penumpukan penumpang di halte, dan sebagainya... Karena itu saya berharap sistem transportasi MRT/monorel ini kelak terintegrasi dengan sistem lainnya, seperti busway, kereta api, KRL, atau transportasi lainnya yang aman dan nyaman (tidak seperti angkot-angkot jahanam tersebut).

Overall, PRJ sangat worthy untuk dikunjungi dan sangat layak dijadikan ajang promosi wisata tahunan kepada wisatawan lokal maupun mancanegara. Bagi para wiraswasta/produsen pun, saya kira PRJ merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan produknya kepada calon konsumen. Buat masyarakat umum, tentu PRJ merupakan sarana hiburan alternatif selain mal. Di PRJ, mereka bisa berbelanja, jalan-jalan, menikmati musik, menambah wawasan, dan banyak lagi. Ah, jadi ingin mengintip PRJ tahun depan :-)

Satu lagi kekecewaan saat meninggalkan PRJ, eh tahu-tahu di kaca belakang mobil sudah tertempel manis stiker "LEAGUE". Keparat sekali yang menempel, sudah saya berusaha mati-matian menjaga kaca belakang mobil bersih dari stiker-stiker lancang, eh ini malah ada yang langsung nyelonong menempel dengan pengecutnya... Ugh!

Jumat, 05 Juni 2009

Cerita Derita Ibu Prita


"Sepotong lidah bisa lebih buas dari harimau, lebih tajam dari pedang, dan lebih panas dari kobaran api."
Prita Mulyasari adalah seorang wanita biasa seperti kebanyakan tipikal ibu-ibu muda lainnya di kota besar. Seorang karyawan yang baik, istri yang saleh dan seorang ibu dari dua anak kecil, si sulung berusia 3 tahun dan si bungsu berusia 1 tahun 3 bulan yang masih menyusui. Semua kejadian ini dimulai saat Ibu Prita mengeluhkan panas tinggi suhu tubuhnya disertai pusing, sehingga pada tanggal 07 Agustus 2008 di malam hari, ia berinisiatif memeriksakan diri ke Rumah Sakit Omni International yang berlokasi di Jl. Alam Sutera, Serpong, Tangerang.

Menurut pengakuan Ibu Prita, dia langsung dirujuk ke UGD dan diminta melakukan tes laboratorium. Hasilnya untuk suhu tubuhnya mencapai 39 derajat dan untuk kadar trombosit hanya mencapai 27.000! (kondisi normal trombosit dikatakan sebanyak 200.000). Ibu Prita dianjurkan untuk menjalani rawat inap. Keesokan harinya, dokter yang menangani pasien, dr. Hengky Gosal, datang dan dikatakan mengabarkan revisi hasil trombosit kemarin dari 27.000 menjadi 181.000 sambil mendiagnosis bahwa Ibu Prita terkena demam berdarah. Setelah itu, dr. Hengky diceritakan memberikan berbagai suntikan yang bahkan tidak pernah dijelaskan kepada Ibu Prita dan keluarganya sehingga Ibu Prita mengaku tangan kirinya mulai membengkak.

Keesokan harinya, dr. Hengky kembali mengubah diagnosisnya dengan mengatakan bahwa Ibu Prita terkena "virus udara" (definisi 'virus udara' ini kurang jelas, saya mencoba googling namun tidak menemukan petunjuk jelas. Saya hanya menduga mungkin virus yang menyebar lewat udara. Tetapi virus apa?). Malamnya, Ibu Prita kembali disuntik terus-menerus dan kali ini ia mengaku sempat mengalami sesak nafas sehingga harus mendapatkan bantuan oksigen.

Karena penjelasan dr. Hengky yang tak kunjung memuaskan, Ibu Prita dan keluarganya berniat pindah ke RS lain. Namun data medis yang diberikan oleh RS Omni adalah hasil trombosit sebanyak 181.000, bukan 27.000. Di RS lain, Ibu Prita menceritakan dia didiagnosis terkena penyakit gondongan yang sudah parah karena telah membengkak. Ia pun melayangkan komplain kepada manajemen RS Omni, dan ditanggapi oleh dr. Grace Hilza Yarlen Nela, selaku pihak penanggungjawab. Namun menurut pengakuan Ibu Prita, dr. Grace mewakili RS Omni tetap tidak mau mengakui hasil analisis trombosit sebanyak 27.000 tersebut. Setelah terjadi perdebatan panjang, akhirnya disepakati laporan itu akan dikirim ke rumah Ibu Prita melalui kurir. Diceritakan selanjutnya bahwa sampai sore tiba, surat itu tidak pernah datang. Dokter Grace sendiri saat ditelepon langsung malahan berbohong dengan mengatakan bahwa surat itu telah diterima seseorang bernama Rukiah (padahal menurut Ibu Prita, tidak ada orang bernama Rukiah di rumahnya) dan yang mencurigakan, dr. Grace tidak bisa menyebutkan alamat rumah Ibu Prita meskipun bersikukuh telah mengirimkan surat itu. Ibu Prita dan suaminya pun merasa curiga bila tes laboratorium trombositnya pertama kali itu fiktif dan tak lebih dari kedok RS Omni untuk mendapatkan pasien rawat inap tambahan.

Karena merasa kesal dan sangat kecewa, Ibu Prita menuliskan pengalaman buruknya ini kepada berbagai surat pembaca di media massa. Tak cukup itu, ia juga menuliskan pengalamannya melalui e-mail dan menyebarkannya ke beberapa koleganya di Bank Sinar Mas. Nah, bak surat berantai, e-mail Ibu Prita ini lantas di-forward ke mana-mana oleh orang yang bersimpati sehingga tersebar ke banyak orang, hingga sampai ke telinga RS Omni. Mungkin karena dampak yang dirasakan RS Omni pasca tersebarnya tulisan Ibu Prita itu terlalu terasa, RS Omni segera mengambil langkah melawan balik. Tanpa berusaha melakukan klarifikasi apa pun, RS Omni langsung merasa perlu memberi bantahan di media massa nasional. Seakan ingin menghantam dengan kekuatan penuh, RS Omni, dr. Hengky, dan dr. Grace, segera menyewa pengacara untuk menuntut balik Ibu Prita secara hukum!

Berikut ini pengumuman dan bantahan dari pihak RS Omni yang dimuat di Kompas, 08 September 2008:


Kami, RISMA SITUMORANG, HERIBERTUS & PARTNERS, Advokat dan Konsultan HKI, berkantor di Jalan Antara No. 45A Pasar Baru, Jakarta Pusat, dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA, Dr. HENGKY GOSAL, SpPD dan Dr. GRACE HILZA YARLEN NELA;

Sehubungan dengan adanya surat elektronik (e-mail) terbuka dari SAUDARI PRITA MULYASARI beralamat di Villa Melati Mas Residence Blok C 3/13 Serpong Tangerang (mail from: prita.mulyasari@ yahoo.com) kepada customer_care@ banksinarmas. com, dan telah disebarluaskan ke berbagai alamat e-mail lainnya, dengan judul
'PENIPUAN OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA TANGERANG';

Dengan ini kami mengumumkan dan memberitahukan kepada khalayak umum/masyarakat dan pihak ketiga, 'BANTAHAN kami' atas surat terbuka tersebut sebagai berikut:

1. Bahwa isi surat elektronik (e-mail) terbuka tersebut tidak benar serta tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi (tidak ada penyimpangan dalam SOP dan etik), sehingga isi surat tersebut telah menyesatkan kepada para pembaca khususnya pasien, dokter, relasi OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA, relasi Dr. HENGKY GOSAL, SpPD, dan relasi Dr. GRACE HILZA YARLEN NELA, serta masyarakat luas baik di dalam maupun di luar negeri.

2. Bahwa tindakan SAUDARI PRITA MULYASARI yang tidak bertanggungjawab tersebut telah mencemarkan nama baik OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA, Dr. HENGKY GOSAL, SpPD, dan Dr. GRACE HILZA YARLEN NELA, serta menimbulkan kerugian baik materil maupun immateril bagi klien kami.

3. Bahwa atas tuduhan yang tidak bertanggungjawab dan tidak berdasar hukum tersebut, klien kami saat ini akan melakukan upaya hukum terhadap SAUDARI PRITA MULYASARI baik secara hukum pidana maupun secara hukum perdata.

Demikian PENGUMUMAN & BANTAHAN ini disampaikan kepada khalayak ramai untuk tidak terkecoh dan tidak terpengaruh dengan berita yang tidak berdasar fakta/tidak benar dan berisi kebohongan tersebut.

Jakarta, 8 September 2008
Kuasa Hukum
OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA,
Dr. HENGKY GOSAL, SpPD dan Dr. GRACE HILZA YARLEN NELA
RISMA SITUMORANG, HERIBERTUS & PARTNERS


Tercatat, pada tanggal 13 Mei 2009, Ibu Prita resmi dipenjara karena didakwa telah melakukan pencemaran nama baik dan pelanggaran atas UU Informasi & Transaksi Elektronik (ITE). Ironis, korban pertama UU yang masih baru ini bukan seorang cracker ulung atau teroris, tetapi adalah seorang ibu rumah tangga yang bahkan masih harus menyusui bayinya! Seperti apakah isi UU yang dinilai kontroversial ini? “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.” [pasal 27 ayat 3 UU 11/2008] dengan ancaman pidana 6 tahun dan atau denda 1 miliar.

UU ini pun sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Sejauh mana perbuatan seseorang bisa didefinisikan sebagai "penghinaan" atau "pencemaran nama baik"? Apakah komplain konsumen di media massa bisa dikategorikan ke dalam 2 hal tersebut? Saya khawatir keberadaan UU ini malah nantinya bisa memasung kebebasan berpendapat di media massa dan internet. Bahkan UU ITE ini sebenarnya bertentangan dengan UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999. Di dalam UU ini, konsumen dinyatakan berhak untuk didengarkan pendapat dan keluhannya akan barang/jasa yang digunakan. dan berhak untuk diperlakukan secara benar, jujur, dan tidak diskriminatif. Ada pula hak konsumen untuk mendapat kompensasi/ganti rugi bila barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian.

Sebenarnya, Ibu Prita bukan benar-benar korban pertama UU ini. Tercatat, di bulan November 2008, Erick Jazier Ardiansjah, seorang Account Executive Equity dari Bahana Securities, juga ditangkap polisi karena didakwa menyebarkan berita penipuan melalui e-mail. Sebenarnya sudah menjadi tugas bagi Erick untuk memberikan sebanyak mungkin informasi (termasuk rumor) kepada para nasabahnya. Tetapi tidak ada jaminan bahwa para nasabah ini tidak akan mem-forward e-mail itu ke mana-mana. E-mail yang bermasalah ini berisikan rumor tentang beberapa bank di Indonesia yang dikabarkan mengalami masalah likuiditas dan kegagalan transaksi antar bank. Alhasil, Erick pun segera ditangkap karena dianggap menyebarkan hasutan yang dapat mengacaukan stabilitas perbankan di Indonesia.

Bahkan sebelum kasus Erick dan Ibu Prita ini mencuat, di bulan November 2006, Khoe Seng Seng telah mengalami kasus yang mirip. Khoe Seng mengaku bahwa ia merasa tertipu saat membeli ruko di Mangga Dua yang dikelola PT Duta Pertiwi dan ternyata status tanah tersebut milik pemda dan hanya berupa HPL (Hak Pengelolaan Lahan), bukan hak milik. Merasa kecewa, ia menulis pada surat pembaca di Kompas dan Suara Pembaruan. Namun ia malah dilaporkan oleh PT Duta Pertiwi dengan tuduhan pencemaran nama baik (pada saat itu, UU ITE belum dibentuk).

Kedua kejadian antara Khoe Seng, Erick, dan Ibu Prita sebenarnya sangat identik tetapi simpati rupanya lebih mengalir kepada Ibu Prita. Mengapa? Karena pada kasus Erick, implikasinya sangat luas, bisa mempengaruhi industri perbankan seluruh Indonesia! Sementara pada kasus Ibu Prita, implikasinya relatif terbatas, tak lebih dari surat pembaca di media massa yang kebetulan dibaca dan direspon banyak orang. Terlebih, secara psikologis, masyarakat tentu lebih bisa bersimpati kepada ibu muda yang terpaksa tidak bisa menyusui bayinya karena dipenjara daripada kepada seorang pria pegawai sebuah lembaga sekuritas atau seorang pria keturunan Tionghoa. Paling tidak Khoe Seng dan Ibu Prita sama-sama mewakili pihak konsumen yang lemah, tak berdaya, dan termarjinalkan.

Kalau kita mau jujur, perbuatan Ibu Prita itu sebenarnya sangat wajar dan manusiawi sekali. Menurut riset, seorang konsumen yang puas akan mengatakan pada 3-4 orang lain. Tetapi konsumen yang tidak puas akan menyebarkannya pada 11 orang! Di sinilah kekuatan word of mouth atau buzzing bekerja. Dalam hal ini, Ibu Prita merupakan konsumen (pasien) yang kecewa terhadap produk (jasa) dari RS Omni. Padahal Ibu Prita telah membayar sejumlah harga untuk mendapatkan jasa tersebut. Maka kekecewaan konsumen lazimnya disuarakan di media massa untuk menarik perhatian publik dengan harapan akan mendapatkan respon dari produsen. But hey, RS Omni malah memperkarakan si konsumen dengan tuduhan pencemaran nama baik! Did you get my point? Apalagi ini kekecewaan konsumen yang berhubungan dengan kesehatan (nyawa manusia-ada indikasi malpraktik), tentu akan lebih sensitif daripada sekadar kekecewaan terhadap kualitas barang semata.

Akhirnya simpati publik pun membanjir tanpa dapat dibendung. Diberitakan bahwa dukungan di Facebook untuk Ibu Prita mencapai 150 ribu anggota. Sementara untuk grup penolakan terhadap RS Omni Internasional Tangerang sudah mencapai 23 ribu anggota. Dukungan dari banyak pihak, mulai blogger, mahasiswa, masyarakat awam, YLKI, anggota dewan, hingga berujung pada Capres-Cawapres pun turut berdatangan. Tekanan bertubi-tubi untuk membebaskan Ibu Prita pun akhirnya menemui hasil. Statusnya diturunkan dari "tahanan penjara" menjadi "tahanan kota". Pada tanggal 03 Juni 2009, beliau diizinkan pulang ke rumah menemui suami dan kedua anaknya. Kejaksaan Agung pun mulai memeriksa jaksa yang mendakwa kasus ini. Bahkan kepolisian terkesan ingin ikut "mencuci dosa" dengan mengatakan bahwa kejaksaan yang menahan Ibu Prita dan kejaksaan yang ngotot menggunakan pasal UU ITE untuk mendakwa Ibu Prita.

Saya yakin saat ini RS Omni Tangerang menuai badai dari angin yang telah ditabur sendiri. Saya percaya omzetnya akan menurun drastis seiring menurunnya jumlah pasien. Saya kira juga akan ada beberapa kontrak/kerjasama yang dibatalkan sepihak oleh sponsor karena mereka melihat brand RS Omni telah hancur lebur di mata publik. Semua ini menurut saya karena respon yang diambil untuk melawan threat yang keliru. Saat seorang konsumen memberitakan kejelekan produk kita dan mendapat respon publik, tidak perlu membantahnya apalagi memberangusnya (kecuali berita itu sungguh sebuah hal yang tidak benar). Publik justru akan semakin resistan. Ingat, bargaining power mereka jauh lebih kuat. Secara logika, apabila Ibu Prita berniat menipu publik dengan menyebarkan berita bohong, apakah ia akan memberikan nama lengkap, alamat, dan nomor ponselnya di surat pembaca?

Menurut saran beberapa ahli Crisis Management, sangat disarankan saat menghadapi masalah itu, RS Omni menggunakan hak jawab saja di milis-milis yang bersangkutan lalu berusaha menghubungi Ibu Prita dan berusaha mencari win-win solution. Sangat dianjurkan bahwa kalangan top management RS Omni sendiri yang mengunjungi rumah Ibu Prita dan menjelaskan permasalahan ini. Akui saja keteledoran RS Omni yang menghasilkan tes trombosit yang tidak valid. Setelah minta maaf dan kesepakatan tercapai, RS Omni bisa memohon Ibu Prita untuk kembali menulis pernyataan di milis, e-mail, dan surat pembaca bahwa semuanya telah diselesaikan dengan baik oleh RS Omni. Sebuah solusi yang terdengar lebih santun kan, daripada menyewa pengacara mahal atau memasang iklan satu halaman penuh di media massa nasional? RS Omni malah harus bersyukur kalau tidak dituntut balik oleh Ibu Prita yang sudah dizalimi dan didukung segenap elemen masyarakat.

Setelah itu untuk membangun kembali brand yang terpuruk, RS Omni direkomendasikan menggunakan strategi Public Relations. Jangan melawan arus, biarkan semuanya mereda dan beri kesempatan PR untuk membangun ulang brand RS Omni secara perlahan-lahan menuju arah yang positif. Hal yang jelas sangat tidak mudah, namun bukan mustahil dilakukan. Satu lagi, sepertinya RS Omni perlu segera membenahi seluruh sistem manajemennya secara radikal, terutama Customer Relationship Management, sebelum mengalami kebangkrutan akibat tidak ada lagi pasien yang mau berobat ke sana...

Sekarang, jangan-jangan saya juga bisa dituntut RS Omni karena dituding ikut membantu menyebarkan berita bohong di blog ini? Capeee deeehh... :-p

Kamis, 14 Mei 2009

Stone Age in Modern Time


Judul di atas mungkin terdengar kontradiktif dan tidak masuk akal. Apa iya di zaman modern seperti sekarang ini, kita masih bisa mendapati sebuah 'zaman batu'? Well, mari kita kembali ke beberapa bulan silam dari sekarang, tepatnya saat saya masih bekerja di sebuah kantor advertising di daerah Kemang.

Siang itu, langit terasa berawan teduh seakan menghalangi sinar matahari terik yang menghujam bumi tanpa permisi. Semua orang tampak sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing di kantor, tak terkecuali saya. Mendadak, bahkan tanpa peringatan apa pun, Zzzap!... Kantor menjadi gelap-gulita, layar-layar monitor menjadi hitam membisu. Satu-satunya pencahayaan yang ada saat itu hanyalah secercah cahaya dari luar yang malu-malu masuk melalui jendela. Kejadian sepersekian detik itu langsung diikuti oleh beragam reaksi spontan dari hampir semua orang di kantor. Ada yang mengeluh panjang, ada yang mengumpat PLN karena pekerjaannya belum sempat di-save. Ada yang tertawa meledek bahkan mungkin merasa senang karena bisa istirahat sejenak dari pekerjaannya, ada yang mempertanyakan kemanakah gerangan UPS kantor, sampai ada yang dengan polosnya melontarkan pertanyaan retoris, "Eh, mati lampu ya?" :-)

Tiba-tiba seperti anak ayam yang kehilangan induk, semua orang di kantor yang tadinya serius mengerjakan pekerjaannya masing-masing kini seolah kehilangan visi. Situasinya mirip dengan chaos theory dalam skala rendah, semua orang melakukan hal-hal tanpa tujuan. Ada yang memilih ngobrol di teras sambil merokok, ada yang lebih suka ngobrol di dalam, ada yang memainkan handphone, sampai ada yang cuma menatapi langit di kejauhan. Tak sampai 10 menit, hampir semua orang di kantor memilih ke luar ruangan karena di dalam terasa gerah, maklum AC juga ikut tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Untungnya, Creative Director kami waktu itu cepat tanggap dengan segera mengumpulkan personel-personelnya untuk melakukan brainstorming di tengah padamnya listrik ;-)

Sampai hampir setengah jam kemudian, tiba-tiba listrik kembali menyala, dan seketika itu juga semua orang di kantor seperti kembali menemukan jati diri masing-masing. Tanpa dikomando, mereka semua langsung kembali ke tempat duduk dan menyalakan komputer, kembali sibuk dalam rutinitas pekerjaan. Tiba-tiba terlintas dalam benak saya, betapa kehidupan modern sangat bergantung dengan pasokan listrik. Bayangkan, tanpa adanya listrik, kita nyaris tidak bisa melakukan apa pun (apalagi kalau listrik padam pada waktu malam hari). Lampu, TV, komputer, internet, kulkas, AC, charger handphone, semuanya menjadi tidak berfungsi lagi. Analoginya seperti Anda mempunyai sebuah Ferrari tetapi sayangnya bensin belum ditemukan.

Teknologi yang tadinya berfungsi untuk memudahkan manusia ternyata lambat-laun malah menimbulkan ketergantungan manusia terhadap teknologi itu sendiri (reverse adaptive technology). Contoh lain, bila handphone kita low-bat dan kebetulan kita tidak membawa charger. Rasanya seperti separuh nyawa kita lenyap karena kehilangan komunikasi dengan orang lain. Andaikan modem ISP tiba-tiba macet atau jaringan internet sedang down, rasanya juga kita seolah terisolasi dengan dunia luar. Bayangkan juga bila iPod mendadak rewel atau tiba-tiba komputer kita hang, ban kendaraan kita kempis, mesin mogok, dan sebagainya.

Saya jadi berspekulasi seandainya tiba-tiba bencana hujan meteor datang menghujam Bumi atau terjadi bencana Badai Magnetik Matahari dalam skala besar, seperti di film Knowing. Peradaban modern yang kita banggakan selama ini langsung lenyap dalam hitungan jam. Semua peralatan menjadi rusak, semua bangunan artifisial runtuh, dan hanya segelintir manusia yang selamat dari bencana ini. Masihkah kita bisa bertahan hidup bahkan membangun ulang peradaban dengan segala pengetahuan yang kita miliki saat kita masih hidup tenang di zaman modern dan mengklaim diri sebagai manusia abad 21? Sekalipun kita semua rata-rata pernah bersekolah, bahkan sampai lulus kuliah, tetapi siapakah dari kita yang bisa menenun benang menjadi pakaian? Mengerti cara bercocok-tanam dan memanennya? Bisa membuat perkakas logam? Bisa menciptakan peralatan elektronik? Mampu menyalakan api dari gesekan kayu atau batu? Saya yakin jawabannya, hampir tidak ada.

Jadi saat ini, apakah manusia yang mengendalikan teknologi ataukah sebaliknya, teknologikah yang mengendalikan manusia? Saya sendiri saat ini tengah dilanda 'Facebook syndrome'. Sehari saja tidak membuka Facebook, seolah saya menjadi manusia gua yang terperosok dari dunia modern, walaupun faktanya saya masih tinggal di kota dan melakukan aktivitas seperti biasa. Seperti mungkin jutaan orang lainnya, saya mulai kehilangan realitas akibat terlalu sering menjelajahi Facebook dan berinteraksi di dalamnya.

Bahkan ada sejumlah orang yang benar-benar hidupnya telah dikontrol oleh Facebook. Ciri-cirinya adalah orang ini selalu rajin meng-update statusnya dalam hitungan menit! Misalnya, ia meng-share bahwa ia: "sedang makan siang". Semenit kemudian, statusnya berganti menjadi: "makan nasi goreng seafood, yummy!" Sepuluh menit kemudian, berubah menjadi: "Uda makan kenyaaang, skrg siap kerja lage". Lantas di-update lagi menjadi: "Abis makan, koq jadi ngantuuk, duh males kerja neeh", dan seterusnya. Jangan-jangan nanti kalau dia tersandung, statusnya juga berubah menjadi: "sedang kesandung" :-))

Tidak hanya Facebook. Banyak contoh populer lainnya, misalnya manusia-manusia 'autis' yang kemana-mana sibuk memencet-mencet BlackBerry (BB). Jadi sekarang ini bukan hal yang aneh bila kita melihat dua orang yang duduk berhadap-hadapan tetapi sama sekali membisu karena keduanya malah sibuk mengurusi BB mereka masing-masing :-) Fitur eksklusif BB yang mengizinkan pemiliknya untuk saling chatting ternyata malah menjauhkan mereka dari komunikasi sosial sesungguhnya!

Masihkah kita tinggal di zaman batu? Jangan-jangan Morpheus benar, dunia modern yang kita tinggali ini ternyata hanyalah persepsi semu dari dunia matrix ;-)

Senin, 02 Maret 2009

Ponari dan Batu Bertuah


Bak seperti judul novel "Harry Potter & the Sorcerer's Stone", kisah tentang batu bertuah ternyata tidak hanya ada di Hogwarts saja, tetapi juga mampir sampai ke ranah Jombang. Bila batu bertuah yang ditemukan Harry berasal dari Nicholas Flamel, Sang Alchemist legendaris, maka batu bertuah yang muncul di Jombang ini konon berasal dari sambaran petir, mirip seperti bekas luka di dahi Harry Potter sendiri!

Pemilik batu ajaib di Jombang itu adalah Ponari, seorang anak ingusan berusia 9 tahun yang masih duduk di kelas 3 SD. Konon ia mendapatkan batu itu saat sedang bermain-main di tengah hujan lebat. Mendadak saat petir menggelegar, ia merasakan ada sesuatu mengenai kepalanya. Bukan snitch, apalagi bludger, hanya sebuah batu kecil dan konon lagi, katanya mengeluarkan sinar kemerah-merahan. Si Ponari lantas memutuskan untuk mengantongi batu itu dan membawanya pulang.

Entah siapa yang pertama menyebarkan isu dan siapa pasien pertama yang mendapat terapi batu tersebut, mendadak desa tempat tinggal Ponari sudah riuh-ramai dikunjungi banyak orang yang mendambakan kesembuhan instan. Tiba-tiba saja Ponari telah menjelma menjadi from zero to hero, dari seorang anak kampung biasa mendadak menjadi dukun cilik yang dielu-elukan banyak orang! Terapi yang ditawarkan sangat sederhana, sediakan air dalam wadah untuk siap menerima kobokan tangan Ponari yang selalu mengenggam batu ajaibnya, dan saat pasien menenggak habis air antah-berantah itu, maka teorinya si pasien akan langsung waras-wiris! Tak peduli batu itu sering jatuh terguling ke tanah dan tidak pernah dicuci, atau tangan Ponari baru saja lincah mengorek upil lantas menggaruk pantatnya yang gatal :-)

Kepercayaan akan kesembuhan instan itulah yang telah menghipnotis ribuan orang dan menggiring mereka satu persatu mengunjungi kediaman Ponari. Keluarga Ponari pun mencium aroma bisnis yang memikat, langsung serta-merta terbentuk panitia dadakan yang mencoba mengelola barisan pengantre 'batu bertuah' sebagai tambang uang. Hasil yang didapat sungguh mencengangkan, dalam sehari konon mereka mampu mengumpulkan 50 juta Rupiah! Uang sebanyak ini dalam sehari sudah cukup meyakinkan warga satu desa akan betapa tingginya competitive advantage yang dimiliki Ponari. Alhasil, dalam sekejap muncul sekelompok pemuda (preman) menjaga pintu masuk desa dengan dalih-dalih keamanan, muncul pula sederet pedagang dadakan menjajakan dagangannya, serta para tetangga yang juga mendadak ramah membisniskan rumahnya sebagai losmen sementara bagi para pengantri 'batu bertuah'.

Menurut perhitungan, dalam sehari para pengantri di rumah Ponari bisa mencapai 10.000 orang! (Hampir mendekati jumlah penonton Java Jazz 2009 di hari pertama yang menghadirkan Jason Mraz). Ribuan orang sakit berkumpul, berdesak-desakan, mengantri, serta main serobot, kita bisa menduga akibatnya, 2 pasien tak dikenal tewas seketika. Sejak insiden itu dimuat di media massa, kepolisian Jombang dan bupati Jombang mulai turun tangan. Ratusan polisi dikerahkan ikut mengatur barisan pengantri, sementara si bupati konon membujuk Ponari dan keluarganya menyudahi praktek ajaib mereka untuk menghindari korban jiwa baru. Sayangnya pertukaran uang yang sudah mencapai omzet milyaran Rupiah membuat beberapa pihak menginginkan praktik pengobatan 'zaman batu' ini tetap lestari. Si Ponari pun dianggap sebagai tangible asset yang harus diperlakukan secara spesial. Ia tampak seperti bayi atau anak lumpuh down syndrome dengan digendong kemana-mana. Popularitasnya pun meningkat pesat, bak selebritis baru, ia sering diwawancarai wartawan, difoto, bahkan mendapat pengawalan ketat dari pihak panitia dadakan serta kepolisian. Sang kepala sekolah pun sampai rela menjemputnya ke rumah dan mengantarnya ke sekolah hanya demi Si Ponari bisa bersekolah kembali.

Setelah lama menjadi pembicaraan publik, tibalah Kak Seto, seorang pemerhati anak (tetapi tidak pernah memperhatikan anak-anak jalanan) ke Jombang. Usai berdiskusi dengan keluarga Ponari, kepolisian, dan bupati Jombang, diputuskan untuk mengakhiri bisnis batu-batuan ini. Ponari harus tetap bersekolah dan menikmati masa anak-anaknya dengan merdeka. Sampai waktu yang belum ditentukan, akhirnya praktik 'batu bertuah' dihentikan.

Para pasien yang belum kebagian air kobokan ajaib itu tentu saja merasa kehilangan besar. Entah mungkin merasa sudah kepalang tanggung sampai di rumah Ponari, akhirnya dengan gelap mata mereka mengambil air comberan rumah Ponari, air bekas hujan yang mengucur dari genting rumah Ponari, hingga tanah dari pekarangan rumah Ponari yang dibungkus daun pisang. Semuanya berbekal keyakinan buta bahwa itu semua sama berkhasiatnya dengan air rendaman batu antah-berantah milik Ponari!

Di akhir penutupan bisnis itu, lagi-lagi konon, kakek Ponari mengaku bisa menyetorkan uang cash sebesar 1 milyar Rupiah ke rekening bank! Wuih, perlu dipertanyakan bila Dirjen Pajak Jombang tidak cepat tanggap dengan langsung meminta NPWP keluarga Ponari, hehe...

Batu bertuah ternyata tidak dimiliki Ponari semata. Masih di Jombang, ada pihak lain yang juga mengklaim mempunyai batu petir lainnya. Dewi Sulistyowati, si gadis belia berusia 14 tahun mengaku juga menemukan batu istimewa dari sambaran petir. Berbeda dengan teknik Ponari yang mengandalkan air kobokan, teknik yang dipakai Dewi dan ayahnya dalam mengobati orang, lebih 'elegan'. Masih memanfaatkan air sebagai medium, namun batu ini hanya ditaruh di sampingnya lalu mulut ayah Dewi berkomat-kamit membaca doa lantas air jampi-jampi ini diminumkan ke pasien. Mendadak lagi muncul isu-isu keblinger yang menyebutkan bahwa batu Ponari dan batu Dewi adalah 'suami-istri' dengan sebutan Rono-Rene.

Seperti tidak mau kalah dengan putera-puteri Jombang, Siti Nur Rohmah, seorang perempuan Jombang berusia 35 tahun juga mengaku menemukan batu ajaib. Bila batu milik Ponari dan Dewi berasal dari sambaran petir, batu milik Siti ini lebih ajaib lagi, karena berasal dari sebuah mimpi! Ya, Siti mengaku ia bermimpi dititipi sebuah batu pualam oleh kakek tua bernama Ki Renggo. Metode penyembuhan yang dilakukan Siti sama persis dengan Ponari, yaitu batu dicelupkan ke dalam air, lalu air rendaman itu diminum dengan lahap oleh si pasien.

Rupanya tren 'batu bertuah' sedang melanda Indonesia, khususnya di daerah Jawa Timur. Di Bangkalan, Madura, Irfan Maulana, seorang anak berumur 6 tahun tiba-tiba mengejutkan publik dengan juga mengaku-ngaku menemukan batu ajaib. Serupa dengan Siti, Irfan cilik juga mengaku mendapatkannya dari mimpi bertemu 3 pria bersorban yang memberinya uang Rp 1000 untuk membeli air mineral. Mendadak uang tersebut berubah menjadi batu hitam lantas ketiga pria itu berpesan agar batu itu dimanfaatkan untuk kesembuhan orang banyak.

Bila memang Ponari sungguh menemukan batu ajaib yang mungkin menggelinding dari surga, mengapa kemunculannya hampir bersamaan diikuti oleh Dewi, Siti, dan Irfan? Masa benar 4 'batu bertuah' itu secara kebetulan bisa muncul bersama-sama ke dunia fana? Bagaimana juga 4 butir batu ini mampu memperdaya logika ribuan manusia yang rela berdesak-desakan menjadi pasien terapi batu ajaib ini?

Salah seorang pasien Ponari mengaku ia pernah berobat ke dokter spesialis untuk menyembuhkan sakitnya. Sudah tiga kali ia berobat namun kondisinya belum membaik padahal sekali datang ke dokter, ia harus merogoh kocek sebesar Rp 100.000. Sudah pasti ia tergiur dengan terapi gambling ala batu bertuah, bermodalkan 5000-10.000 Rupiah untuk membeli kupon, ia berharap bisa mendapatkan kesembuhan instan dengan menenggak air kobokan Ponari. Kalaupun tidak sembuh, ya mungkin ia berpikir tidak terlalu rugi membuang uang sepersepuluh dari tarif dokter spesialis.

Walaupun belum terbukti secara ilmiah bahwa batu-batu milik Ponari, Dewi, Siti, dan Irfan memang bisa menyembuhkan, sebenarnya diduga kuat kalaupun memang ada pasien yang sembuh setelah meminum air rendaman batu itu, maka itu adalah hasil dari sugesti. Dunia medis mengenal fenomena ini, bila ada pasien yang mengeluh sakit perut dan dokter memberinya aspirin (pil untuk sakit kepala) atau justru kapsul kosong, dan pasien mempercayai bahwa ia sedang meminum obat sakit perut, ia akan sembuh. Fenomena 'pikiran menipu tubuh' ini disebut placebo effect.

Kemungkinan lain, si pasien yang bersangkutan menderita penyakit somatis. Sakit somatis adalah sakit yang tidak ada obatnya karena berasal dari psikologis penderita yang bersangkutan, bukan biologis. Misalnya sakit perut atau pusing karena mengalami depresi ringan atau nervous, sehingga sakit ini akan sembuh dengan sendirinya, baik meminum obat atau tidak sama sekali.

Beberapa pengamat berasumsi membludaknya peminat terapi 'zaman batu' ini tidak lepas dari kegagalan pemerintah mewujudkan pelayanan kesehatan yang merata dengan kualitas baik dan tarif terjangkau. Biaya pengobatan gratis bagi warga miskin yang sempat digembar-gemborkan Dinas Kesehatan pun rupanya hanya masih berupa teori di atas kertas. Pelaksanaannya di lapangan nyaris tidak ada sama sekali. Maka wajar saja bila banyak orang yang mengalihkan pengobatan ke sumber-sumber yang tidak rasional sama sekali, seperti Ponari dan kawan-kawan.

Sekadar intermezzo, diberitakan di Detik.com, bahwa Ponari yang dielu-elukan sebagai dukun sakti itu ternyata di sekolahnya dikenal sebagai anak yang bodoh bahkan nyaris tidak naik kelas. Seandainya air rendaman batu petirnya memang berkhasiat menyembuhkan, mengapa ia tidak meminum air kobokannya sendiri supaya menjadi anak pintar yang jenius?

Bila bangsa ini terus mengabaikan logika, maka wajarlah bila bangsa ini terus dilanda kemalangan dan kemunduran... Let's changing the nation by changing ourselves!

Minggu, 08 Februari 2009

Simply Irresistible (Case Study of Gender Difference)


Pernahkah Anda memperhatikan seorang lawan jenis dan entah mengapa menyukai tingkah lakunya yang sederhana, tanpa alasan rasional? Saya pribadi juga mengalami hal yang sama, menunjukkan ketertarikan secara implisit pada perempuan seperti gambar di atas.

1. A Woman Wearing Glasses

Call me weird, entah mengapa secara subjektif saya selalu menyukai perempuan-perempuan berkacamata. Memang bagi banyak orang, kacamata menyimbolkan kesan kuno, kuper, bookworm bitch, library minded, sehingga banyak gadis rela menanggalkan kacamatanya lantas beralih ke softlens atau malah menjalani operasi lasik, demi puja-puji orang-orang di sekelilingnya. Namun, buat saya, kacamata justru merupakan ikon kecerdasan, intelektualitas, kecermatan, dan memang tak bisa lepas dari asosiasi kutu buku (who cares? I do reading books, too!) Justru kacamata itu bisa menegaskan karakter yang kuat bagi pemakainya. Saya juga tidak pernah keberatan berteman dengan perempuan yang jauh lebih pintar dari saya.

2. A Woman with an Ice Cream

Kalau kebetulan ada seorang gadis yang sedang menghabiskan es krimnya, entah mengapa saya juga senang memandanginya :-) Apalagi kalau si gadis memakan es krim itu dengan cara yang agak lucu, entah dengan dijilati, dihisap, sampai celemotan di bibirnya, hal itu membuat saya tersenyum di dalam hati dan terkadang memaksa fantasi ini melayang ke mana-mana ;-) Ah, satu lagi efek dari Badai Testosteron yang sedang melanda...

3. A Woman Applying Make-up

Mungkin sudah menjadi kodrat seorang perempuan untuk selalu ingin tampil cantik, dan salah satu cara untuk menggapai kecantikan itu adalah dengan melakukan make-up. Semenjak kecil, saya sudah terpesona menatap ibu saya berdandan sebelum pergi menghadiri acara-acara spesial. Pesona masa kecil itu sampai kini masih bertahan saat saya melihat perempuan merias wajah mereka sendiri.

Bagaimana ia dengan lembut menyisir rambutnya, telaten menorehkan eyeshadow/mascara pada kedua matanya, menaburkan bedak, sesekali memberikan blush-on ke dua pipinya, lalu mengoleskan lipstik pada bibirnya, kemudian mengatupkan kedua sisi bibirnya supaya rata, atau menggunakan secarik tisu untuk mengurangi efek dramatis lipstiknya. Setelah itu, ia akan menyemprotkan sedikit wewangian segar ke bagian-bagian tubuhnya, dan dengan tersenyum simpul puas menatap hasil akhir masterpiece-nya di cermin. Pria mungkin tidak bisa memahami ritual yang sekilas terlihat sederhana namun sesungguhnya kompleks ini, namun setiap pria selalu bisa mengagumi hasilnya.

Sebagai pria, saya pernah menyimpan rasa 'kecemburuan' kepada perempuan. Kaum hawa seakan dilahirkan untuk menjadi mahluk yang mempesona. Pakaian yang mereka kenakan begitu beragam dan semuanya sangat fashionable, berbeda dengan busana pria yang cenderung kaku dan seragam; hanya kemeja/T-shirt, celana panjang, sesekali dilengkapi jas dan dasi, that's it.

Bila pria berambut panjang, masyarakat awam akan mencelanya sembari meyakinkan hanya kaum seniman dan rocker yang cocok berambut gondrong. Namun bila perempuan memilih berambut pendek saat ini, alih-alih menyebutnya tomboy, mereka lebih senang memuji penampilan baru tersebut dengan mengatakan: "Berani tampil beda", "Kelihatan lebih muda & segar", "Lebih kelihatan manis", "Modern look", "Edgy", dan sebagainya. Malah belakangan rambut bob ala Victoria Beckham atau rambut pendek ala Rihanna sangat ngetren di kalangan perempuan. Bahkan rambut yang lebih pendek boyish look seperti Agyness Deyn, sangat menuai beragam pujian dari kalangan fashion & hairstylist.

Tak hanya itu 'keunggulan' yang dimiliki perempuan. Bila mereka mendapat masalah, mereka tinggal memasang wajah polos (terkadang diselipi kesan manja) meminta bantuan dari para pria. Entah mungkin terdorong rasa heroik tinggi atau tidak bisa menolak sorot mata perempuan yang meluluhkan logika beku pria, biasanya tingkat keefektifan cara ini hampir mendekati 95%. Riset kecil mengenai kebenaran ini pernah dibuktikan di serial reality show, "Tolooong!", yang pernah ditayangkan di SCTV. Pada satu adegan ada seorang gadis manis yang pura-pura meminta tolong pada warga sekitar karena ban mobilnya kempis. Baru saja ia berakting teriak minta tolong, langsung 2 motor yang kebetulan lewat segera berhenti dan menghampiri si gadis. Tentu saja para pengendaranya semua adalah pria :-) Hal yang sangat kontras terjadi saat si talent adalah seorang bapak paruh baya yang harus menunggu sekitar 1 jam untuk mendapat bantuan pertamanya!

Psikologi perempuan dalam berbelanja juga sangat menarik bagi saya secara pribadi. Berbeda dengan pria yang sangat direct dalam mencapai tujuan dengan mengagung-agungkan logikanya, perempuan justru sering tampil atraktif. Seperti prosedur para personel SWAT yang terlatih untuk menumpas teroris, mereka tidak langsung mendobrak pintu depan, menghajar, dan menendang pantat musuh satu-persatu. Mereka justru tampil menyisir dari lingkungan sekitar, perlahan memperkecil sweeping zone, hingga akhirnya mengepung markas teroris tersebut.

Tipikal yang sama ditunjukkan perempuan. Bila pria berbelanja, ia cenderung langsung bergerak menuju sasaran. Ia sedang membutuhkan T-shirt putih, dan dengan sadar ia akan mengeleminir semua target yang bukan termasuk T-shirt putih. Setelah mendapat T-shirt putih, besar kemungkinan ia akan langsung pulang, mission accomplished, well done! Sementara kaum perempuan punya pendekatan yang berbeda. Bila ia membutuhkan T-shirt putih, ia justru akan melakukan penyisiran dari toko-toko lain, melihat objek-objek lainnya dahulu, membandingkan harga, dan secara otomatis akan memasukkan semua objek yang disentuhnya di toko ke dalam visualisasi bila dipadukan dengan koleksi-koleksi yang sudah ia punyai di lemari bajunya. Dalam berbelanja, perempuan juga cenderung memperluas target range, sehingga tidak hanya T-shirt putih yang dibidik, tetapi juga mungkin T-shirt merah, blouse biru, blazer beludru, sepatu stiletto, dsb. Tidak heran, aktivitas berbelanja perempuan selalu memakan waktu yang lama!

Namun ada sebuah anomali dalam psikologi berbelanja wanita. Anomali yang mungkin tidak pernah dapat dipahami oleh analisis mesin logika pria, namun dipandang sebagai sebuah keuntungan oleh mesin emosional perempuan. Anomali yang bisa mengubah hasil akhir dari sebuah keinginan awal. Misalnya, perempuan yang tadinya ingin membeli T-shirt putih, namun saat pulang, mungkin ia justru membeli rok A-Line, tank-top, printed handbag, tetapi tidak membeli T-shirt putih sama sekali! Alasan mereka membeli barang-barang tersebut (selain sedang diskon) adalah karena cocok dipadukan dengan koleksi-koleksi mereka sebelumnya.

Berbahagialah, kalian kaum perempuan... Berdasarkan ramalan pakar-pakar marketing tersohor, saat ini Bumi sedang bertransformasi menjadi Venus (planet yang konon diasosiasikan dengan perempuan). Alih-alih menjadi rasional ala 'mahluk Mars', seluruh dunia kini sedang menikmati peran baru mereka yang emosional. Lihat saja, betapa jumlah pria-pria metroseksual semakin meningkat seiring meningkatnya kesadaran pria untuk memperhatikan penampilan. Lupakan pria macho ala Charles Bronson atau Clint Eastwood semasa muda! Kini pria mendambakan diri menjadi sosok David Beckham, F4, atau bahkan Edward Cullen!

Konsep marketing pun diyakini juga turut bergeser. Hermawan Kartajaya, melalui buku best-seller-nya, "Marketing in Venus", mengatakan bahwa komunikasi pemasaran yang bersifat top-down, one-way, dan massal menjadi kurang efektif. Justru komunikasi interaktif, kolegial, peer-to-peer, kelak akan merajai masa depan. Kita sudah melihat indikasi-indikasi itu dengan meningkatnya popularitas Facebook, Yahoo Messenger, Mailing List, Forum, dan BlackBerry.

Ah, ternyata membicarakan mengenai perbedaan gender saja, bisa sampai meluber ke mana-mana ;-P